The Invention of Hugo Cabret

gambar adalah versi asli hard cover

Paris, 1931. Hugo Cabret adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di suatu kamar di stasiun kota. Tugasnya adalah menyetel jam-jam mekanik yang ada di dinding stasiun. Sebenarnya ini adalah tugas pamannya, namun sejak pamannya pergi dan menghilang beberapa bulan lalu, Hugo menggantikannya melakukan tugas tersebut. Keberadaan Hugo bagaikan hantu, ia menyelinap dari satu bilik jam ke bilik lainnya, menyetel serangkaian gir dan gigi dari jam-jam mekanik yang tersebar di stasiun itu. Ia menyembunyikan keberadaannya supaya kepala stasiun tetap menganggap pamannya masih ada dan masih menjalankan tugasnya, agar ia tetap bisa tinggal di kamar kecil pamannya di stasiun itu. Hugo tinggal sendiri, dan untuk makan kadang ia harus mencuri.

Namun tidak hanya jam yang ada di pikiran Hugo. Di benaknya ada sebuah rahasia, yang merupakan warisan dari mendiang ayahnya. Ayahnya dulu bekerja di sebuah museum, memperbaiki segala yang rusak. Suatu hari ia menemukan sebuah patung kayu mekanik, atau yang disebut automaton, yang jika diputar, akan memunculkan suatu gerakan menulis sesuatu. Sayangnya patung itu saat ditemukan sudah rusak, dan sang ayah berniat memperbaikinya. Hugo sempat melihat patung itu bersama ayahnya di gudang museum. Suatu kecelakaan yang terjadi di museum menewaskan ayahnya, dan Hugo pun menjadi yatim piatu. Namun sebuah catatan yang dibuat ayahnya mengenai cara memperbaiki patung tersebut menjadi benda berharga peninggalan sang ayah, dan Hugo berniat meneruskan memperbaiki patung tersebut. Entah mengapa, Hugo merasa patung itu akan menyampaikan sesuatu, dan akan menghubungkannya dengan masa depannya.

Di stasiun itu ada sebuah toko mainan kayu mekanik (jaman itu mainan terbuat secara mekanik dari kayu, seperti kotak musik yang bisa diputar dan mengeluarkan bunyi, atau mobil-mobilan atau binatang yang jika diputar akan bergerak), yang dijaga oleh seorang bapak tua yang selalu berwajah muram. Hugo sering mengintai dari balik jam dan mencuri beberapa komponen dari toko itu untuk mengganti beberapa bagian yang hilang dari patung yang sedang diperbaikinya. Dari sinilah petualangan Hugo dimulai, sejak bapak tua itu menangkap basah Hugo, mengambil buku catatannya, perkenalan Hugo dengan anak perempuan bernama Isabelle, juga Etienne, teman Isabelle. Akankah Hugo mendapatkan kembali buku catatannya yang berharga itu? Apakah patung tersebut berhasil diperbaiki, dan jika ya, tulisan apa yang akan keluar dari ujung penanya ketika mesin patung itu diputar?

Suatu cerita anak yang dikombinasikan dengan fiksi sejarah menjadikan buku ini bacaan yang buat saya sangat memikat, suatu pilihan cross-genre yang menarik. Ilustrasi hasil goresan tangan Brian Selznick yang brilian, begitu hidup, merupakan bagian integral dari cerita. Ya, gambar-gambar itu sangat bercerita, banyak penggalan cerita disampaikan melalui serangkaian halaman gambar ilustrasi yang tak perlu kata-kata untuk menjelaskannya. Bergantian, beberapa halaman cerita dalam kalimat disusul oleh berlembar-lembar cerita dalam ilustrasi. Kekuatan Selznick sepertinya lebih pada ilustrasinya, karena sepertinya melalui gambar-gambarnya, the story speaks louder. Lihat saja tatapan mata yang digambarnya misalnya, tampak hidup, mengandung emosi atau sinar mata tertentu. Ajaib! Gambar-gambar itu juga terasa bergerak. Membaca buku ini jadi layaknya sedang menonton film.

Melalui kisah ini, Selznick ingin mengantar kita pada seorang figur penting dalam sejarah perfilman Perancis, Georges Méliès (1861-1938), yang kisah hidupnya juga telah mengilhami Selznick untuk menulis buku ini. Bernama asli Marie-Georges-Jean Méliès, Méliès adalah pesulap dan pembuat film di masa-masa awal perfilman perancis di pergantian abad ke-20. Ia juga seorang inovator yang sangat produktif, khususnya dalam menciptakan special effects untuk film-filmnya, dan hal inilah yang menjadikan film-filmnya berbeda. Mungkin karena juga seorang pesulap, Méliès kerap memasukkan unsur magic atau surreal pada film-filmnya, sehingga kadang julukan “cinemagician” ditujukan kepadanya. Selain itu, ia juga pelopor dalam pembuatan film-film horor. Filmnya yang terkenal diantaranya adalah Le Voyage dans La Lune/ A Trip to the Moon (1902) dan Le Voyage Impossible/ The Impossible Voyage (1904). Dikatakan melalui karya-karyanya, Méliès banyak menginspirasi tokoh-tokoh besar lain dalam sejarah, antara lain Thomas Edison, Jean Cocteau dan Walt Disney.

Di masa hidupnya, Méliès memiliki koleksi automaton, karena seorang pesulap masa itu sering memakai automaton sebagai alat triknya, namun banyak yang sudah hancur atau hilang. Di akhir hidupnya, Méliès jatuh bangkrut, dan dalam kemarahannya ia membakar semua film negatifnya beserta sejumlah kostum dan setting yang ada di studionya. Karenanya, hampir semua karyanya musnah dan tidak ada lagi saat ini, kecuali beberapa yang sempat diproduksi di Amerika. Kecintaannya pada film didorong hasratnya untuk menciptakan dan menghadirkan mimpi  bagi pemirsanya. “Laugh, my friends. Laugh with me, laugh for me, because I dream your dreams.“, adalah secuplik ungkapan hasratnya yang mendasari karya-karyanya. Banyak plot dalam buku ini mengambil persis kisah hidup sang cinemagician ini.

Tidak heran Perancis menghargai Méliès sebagai salah satu figur paling honorable di negerinya. Nama Méliès dijadikan nama rantai bioskop lokal di Perancis. Setelah baca buku ini saya baru tahu latar belakang nama bioskop yang tersebar di seluruh Perancis itu, di kota besar sampai ke kota-kota di pelosoknya. Berbeda dengan bioskop besar yang banyak memutar film box-office internasional, bioskop Méliès lebih memusatkan diri pada film-film perancis dan film internasional yang memenangkan award tertentu atau yang dianggap bernilai seni, dan jarang sekedar jenis film hollywood yang sedang hangat misalnya. Saya mengakui memang sering menemukan film bermutu yang bukan sekedar hiburan di bioskop Méliès yang ada di kota kecil saya waktu itu.

Dari Le Voyage dans La Lune (1902). Walaupun secara teknik film pasti sudah tergolong kuno, tidakkah idenya masih terasa sangat original bahkan pada saat ini?

Adegan the sun swallows the spaceship, dari Le Voyage Impossible (1904).

Kembali ke buku The Invention of Hugo Cabret ini, ada bagian percakapan yang saya sangat suka:

“Apakah kau perhatikan bahwa setiap mesin dibuat untuk alasan tertentu?” tanya Hugo pada Isabelle. “Ada yang dibuat untuk membuatmu tertawa, seperti tikus ini, atau untuk menunjukkan waktu, seperti jam, atau membuatmu keheranan, seperti automaton itu. Mungkin itu sebabnya mesin yang rusak selalu membuatku sedih karena ia tidak dapat melakukan yang seharusnya.”

“Mungkin orang juga begitu,” Hugo melanjutkan. “Jika kau kehilangan tujuanmu… rasanya seperti mesin rusak.” (hlm. 384)

“Kadang-kadang aku datang ke sini pada malam hari, bahkan ketika aku tidak sedang memperbaiki jam, hanya untuk melihat-lihat kota. Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih pada sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” (hlm 388)

Brian Selznick adalah ilustrator (dan penulis) berbagai buku dan novel dan pernah meraih penghargaan sebagai ilustrator terbaik versi New York Times. Ia juga aktif sebagai penjual buku dan desainer. Buku-bukunya yang lain juga melibatkan gambar-gambar goresan tangannya dan tampaknya selalu membawa pembaca pada perjalanan yang magical. Bravo untuk Mizan Fantasi yang telah menerbitkan salah satu karyanya, dan tetap mempertahankan cover aslinya. Bahkan, back cover dan spine-nya pun tampak amazing!

The Invention of Hugo Cabret/ Brian Selznick/ Young Adult Literature/ Mizan Fantasi/ 2012 (2007)/ Bahasa Indonesia/ 543 hlm.

Posted in Children/ Young Adult Fiction | Tagged | 3 Comments

The No. 1 Ladies’ Detective Agency dan Tears of the Giraffe

Dua buku dari seri The No. 1 Ladies’ Detective Agency yang langsung membuat saya jatuh cinta pada Mma Ramotswe!

Precious Ramotswe adalah seorang wanita teguh dan mandiri namun berhati hangat yang tinggal di Bostwana. Ia membuka usaha agen detektif pribadi, yang merupakan satu-satunya dan pertama kali pernah ada di seluruh Bostwana. Dalam bukunya yang pertama, The No. 1 Ladies’ Detective Agency, kita banyak dikenalkan dengan perjalanan hidup detektif wanita bertubuh gemuk yang gemar menghabiskan waktu luang di beranda rumahnya dengan secangkir teh seduh ini. Ditemani sekretarisnya, Mma Makutsi, ia menerima kasus-kasusnya. Kasus-kasus yang datang cukup sederhana namun unik, dan sering berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, namun tetap saja butuh kecerdasan dan ketajaman intuisi dalam menemukan pemecahannya, dan Mma Ramotswe memiliki itu semua. Sangat mengasikkan menelusuri langkah-langkah yang diambil Mma Ramotswe dalam menjebak calon tersangka dalam rangka mencari bukti terpenting dari kasusnya. Juga ada Mr. J. L. B. Matekoni, sahabat Mma Ramotswe, pemiliki bengkel Tlokweng Road Speedy Motors, yang selalu siap menolong, namun menjadi demikian pemalu jika berhadapan dengan perasaannya terhadap Mma Ramotswe.

Dalam Tears of the Giraffe, intuisi dan kecerdasan Mma Ramotswe kembali diuji, terutama dalam menghadapi kasus yang tampaknya buntu, yaitu mencari keberadaan seorang anak bekas expat Amerika yang hilang di gurun Kalahari sepuluh tahun yang lalu. Di samping itu, ada beberapa urusan rumah yang tiba-tiba perlu perhatian, seperti Mma Makutsi, sekretarisnya, yang berhasrat meningkatkan karir menjadi detektif, sampai hadirnya anggota keluarga baru secara tiba-tiba dan tak terduga. Bagaimana kelanjutan cerita Mr. J. L. B. Matekoni dengan Mma Ramotswe? Lalu kenapa juga judulnya Tears of the Giraffe?

Cerita detektif atau misteri di kedua buku ini menurut saya lebih merupakan sampingan, walau tetap membuat penasaran, daripada hal utama yang ingin disajikan. Kasus-kasusnya bukanlah jenis kasus yang super misterius seperti yang biasa terdapat di buku-buku detektif lainnya. Kehidupan Mma Ramotswe lah yang lebih mendominasi dan membawa kita terus mengikuti apa yang terjadi berikutnya. Mma Ramotswe adalah karakter yang membuat kita betah ada bersamanya, tidak kompleks dan selalu bisa merasa bahagia dalam situasi yang sederhana, namun saat menghadapi situasi yang dianggapnya salah secara moral atau etik, ia bisa dan akan bersikap sangat tegas. Secara keseluruhan, kedua buku ini menyajikan karakter yang memorable, dengan cerita yang hangat dan kadang jenaka di sana-sini.

Alexander McCall Smith sendiri menurut saya merupakan figur yang sangat menarik. Selain penulis, ia juga seorang profesor di bidang Medical Law di Universitas Edinburgh, dan banyak berkiprah di pembahasan mengenai bioethics di badan nasional maupun internasional. Tidak heran unsur etik sering muncul dalam bahasan atau pemikiran tokoh-tokohnya, terutama tokohnya di seri Sunday Philosophical Club, Isabel Dalhousie, seorang editor di majalah jurnal applied ethics. Pada Mma Ramotswe pun kadang pertimbangan ini muncul, seperti apakah kita menolong orang lain karena tugas, keharusan, ataukah lebih karena afeksi, dan dari motivasi inilah seharusnya kita menilai seseorang, bukan dari sekedar apa yang dilakukannya. Ternyata pembawaan asli McCall Smith juga jenaka, atau mungkin jahil lebih tepatnya, seperti yang saya rasakan saat menghadiri sesinya dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) bulan Oktober tahun lalu. Kami, para audience, puas cekikikan sepanjang 1 jam sesinya mendengar jawaban-jawaban beliau atas pertanyaan-pertanyaan tangkas yang diajukan sang moderator. Sesi itu merupakan salah satu sesi terbaik yang saya alami di UWRF 2011 lalu.

Seri No. 1 Ladies’ Detective Agency ini telah difilmkan dalam bentuk TV series oleh BBC, dan seorang rekan volunteer saya di UWRF 2011 lalu menceritakan bahwa salah satu kekuatan film itu adalah alam Bostwana yang digambarkan dengan begitu indah, selain penokohan dan ceritanya yang sangat sesuai dengan isi bukunya. Wah, benar-benar ingin nonton jadinya…

Alexander McCall Smith with Jill Scott who plays Mma Ramotswe in the film

Sosok Mma Ramotswe dalam film memang cocok seperti yang ada dalam benak saya saat membaca buku ini, gemuk dan warna-warni dari atas sampai bawah :) (photo: www.dailymail.co.uk)

Alexander McCall Smith dalam salah satu sesi di UWRF 2011. (photo: UWRF 2011 facebook page)

Seusai sesi dengan beliau (di Museum Neka, Ubud), kami menyerbu dan mengantri untuk meminta tanda tangan, dan beliau melayani satu per satu dengan penuh senyum :) (photo: pribadi)

Giliran saya :) (photo: pribadi)

Ramah, dengan mata jenakanya yang selalu tersenyum. Terima kasih yaa.. :) (photo: pribadi)

Wishlist saya berikutnya adalah beberapa buku lanjutan dalam seri No. 1 Ladies’ Detective Agency, dan seri Professor Dr von Igelfeld, seorang akademisi yang begitu khawatir dengan reputasinya hingga melakukan sepak terjang yang justru membuat suasana kacau dan merugikan dirinya :)

The No. 1 Ladies’ Detective Agency/ Alexander McCall Smith/ Fiction/ Abacus/ 2011 (1998)/ English/ 250 hlm.

Tears of the Giraffe/ Alexander McCall Smith/ Fiction/ Abacus/ 2011 (2000)/ English/ 233 hlm.

Posted in Literature (Classic/ Contemporary) | Tagged | 3 Comments

Seandainya Mereka Bisa Bicara

Saya sudah lama tahu mengenai James Herriot, seorang dokter hewan yang bertugas di pedalaman pedesaan Yorkshire, Inggris, yang juga menulis sekian seri tulisan mengenai pengalamannya, namun baru berkesempatan membaca satu bukunya baru-baru ini. Buku ini merupakan salah satu treasure yang saya dapatkan saat berkunjung ke garage sale di rumah orang tua teman di bilangan Tebet, Jakarta, bulan Januari lalu. Terbitan 1978 dari penerbit Gramedia, dengan bentuk fisik buku dan irama terjemahan yang langsung mengingatkan saya pada buku-buku cerita anak terjemahan yang banyak saya baca sekitar tahun-tahun itu, buku ini makin terasa tuanya, pun jadi begitu berharga.

Beruntung juga saya membaca buku ini sebagai buku pertama dari James Herriot yang saya baca, karena di sini ternyata diceritakan awal mula James berkarir di pedesaan Yorkshire. Setting adalah tahun 1930-an. Sebagai dokter hewan (beberapa kesempatan lain disebutkan sebagai dokter spesialis bedah hewan) yang baru lulus, ia menerima pekerjaan magang di desa di Yorkshire. Awalnya ia menyangsikan apa yang akan ia dapat perbuat di desa terpencil itu, apakah ia akan merasa bosan mengingat sepinya daerah itu, namun disisi lain ia juga merasa beruntung karena jaman itu banyak koleganya sesama dokter hewan yang harus menerima pekerjaan apa saja atau bersedia tidak dibayar karena kurangnya lapangan pekerjaan. Setidaknya ia bekerja sesuai pendidikan profesinya dan memperoleh gaji. Ia diterima bekerja magang oleh seorang dokter hewan senior satu-satunya di wilayah itu, Siegried Farnon, seorang tua yang cukup nyentrik namun sangat baik hati, di rumahnya yang bernama Skeldale. Segera James terlibat dalam panggilan-panggilan darurat mengunjungi rumah petani jauh di pelosok baik untuk menolong lembu yang melahirkan atau sakit perut, kuda yang keracunan, anjing yang kesakitan, atau babi yang sekarat.

Rumah Skeldale, bangunan sebelah kanan, tempat tinggal James yang kini menjadi Museum James Herriot

Tidak jarang James harus bergumul di lantai kandang yang lembab dan becek dengan kotoran hewan atau cairan yang keluar dari perut hewan yang sedang ia tangani, bajunya yang jadi basah dan belepotan, atau tangannya yang kerap kali harus masuk ke tubuh si hewan. Setengah geli saya saat membaca bagaimana James membandingkan antara apa yang disajikan di kuliah dengan praktek nyata di lapangan, dimana saat kuliah selalu disajikan image dokter hewan dengan jas putihnya yang tampaknya selalu bersih dan mulus, dengan sang dokter yang tersenyum seakan-akan apa yang akan dihadapi di depannya adalah sesuatu yang paling indah di dunia, dan si lembu yang selalu duduk manis menunggu untuk ditolong melahirkan. Kenyataannya hampir selalu situasi bersifat darurat, kotor, minim fasilitas, bahkan kadang emosional. James juga harus menghadapi sikap petani yang pada awalnya menyangsikan kemampuan profesionalnya, dan selalu membandingkannya dengan Siegried. Namun James tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, dan pada akhirnya, di mata James, para petani itu adalah orang-orang terbaik dan paling tulus yang ia pernah temui, karena di sisi lain mereka juga sangat penolong dan bersahabat. Yah, segalanya memang butuh waktu, bukan? James pun banyak belajar dari para petani itu, seperti:

Aku mulai mengenal dan menyukai kehidupan petani. Mereka adalah orang-orang yang tabah dan mempunyai filsafat yang baru bagiku. Jika ada bencana, yang bisa membuat orang kota putus asa dan membenturkan kepalanya pada tembok, mereka hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Ya, itu biasa. Memang harus terjadi begitu.” (hlm. 80)

Di saat-saat James merasa kelelahan menanggulangi kondisi hewan yang berat, hal yang mengembalikan semangat dan tenaganya ternyata hal-hal yang begitu sederhana, seperti suguhan minum teh di rumah petani sehabis menjalankan tugas, atau berhenti sebentar saat perjalanan pulang untuk duduk sendiri di padang pedesaan Yorkshire, memandangi rumput yang mengalun oleh hembusan angin, dengan awan-awan yang beriring di atasnya. Duduk hanya merasakan angin dan memandangi padang, di sini James banyak merenung dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. Secara keseluruhan, semua pengalaman itu menjadi pengalaman yang begitu berkesan, yang tidak hanya mengajarkan James menjadi dokter hewan yang andal, namun juga banyak pelajaran tentang mencintai makhluk hidup, manusia ataupun makhluk ciptaan Tuhan lainnya, dan mencintai hidup itu sendiri.

James Herriot menuliskan karya semi-autobiografinya ini dengan bahasa yang lugas, terus terang, dan penuh humor. Beberapa kali saya tersenyum sendiri membayangkan situasi yang diceritakan mirip seperti adegan film kartun. Di kesempatan lain juga banyak tersirat renungan, yang tergolong sangat baik untuk pembentukan karakter. Pesan terkuatnya menurut saya adalah betapa pentingnya kita mencintai apa yang kita lakukan, dan itu tidak bisa dipaksakan. Dalam buku ini juga ada tokoh bernama Tristan, adik dari Siegried, yang juga seorang dokter hewan, namun jelaslah bahwa kecintaannya bukan pada hewan. Apapun yang ia lakukan, atau disuruh lakukan, karena tidak didasari oleh kecintaan, menjadi salah, manipulatif, dan menimbulkan kerugian baik bagi pasien yang dihadapi maupun dirinya sendiri. Semua pihak menjadi merana. Maka carilah apa yang kau suka, tekuni dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya, kebahagiaan yang datang bukan dari uang, namun dari rasa hangat yang menyeruak di hati…

Rasanya saya ingin membaca buku-bukunya yang lain, yang semuanya ditulis dengan judul yang terdengar manis, seperti All Creatures Great and Small, All Things Bright and Beautiful, All Things Wise and Wonderful, The Lord God Made Them All, Dog Stories, dan beberapa lainnya. James Herriot memang fenomenal. Bernama asli James Alfred Wight, tempat aslinya di Yorkshire juga sudah menjadi tujuan wisata bagi mereka penggemar karyanya. Sebut saja The World of James Herriot (museum James Herriot), mengambil tempat di rumah Skeldale di desa Thirsk, Yorkshire Utara, yang bisa dilanjutkan dengan walking tour napak tilas jejak kehidupan James di desa itu. Dari seri buku-bukunya juga sudah lahir beberapa program televisi. If Only They Could Talk (Seandainya Mereka Bisa Bicara) juga dikatakan mengilhami Andrea Hirata untuk menjadikan Edensor, suatu nama desa di selatan Yorkshire, sebagai salah satu judul bukunya (walau di buku ini nama Edensor tidak disebut (?)). Di sini, karyanya yang lain yang juga sudah diterjemahkan adalah Dog Stories (Kisah-kisah Anjing) dari penerbit Gramedia.

Suatu treasure yang kocak dan manis yang saya temukan di awal tahun.

Seandainya Mereka Bisa Bicara/ James Herriot/ Memoar/ 1978 (1970)/ Gramedia/ Bahasa Indonesia/ 312 hlm.

Posted in Memoir | Tagged | Leave a comment

Name in A Book Challenge 2012

Kali ini saya mau ikut reading challenge ah… sekalian memicu saya membaca buku-buku yang udah nangkring manis di rak, dan memotivasi saya untuk menulis reviewnya :) A good start for 2012! Reading challenge ini diprakarsai oleh blog Baca Buku Fanda.

Di Name in A Book Challenge 2012 ini, tantangannya adalah membaca buku-buku fiksi yang mengandung nama orang di judulnya (nama orang, bukan hewan). Misalnya saja: Sarah’s Key, Iblis & Miss Prym, Harry Potter & the Deathly Hallows.

Ini aturannya:

1. Buku harus fiksi, bukan non fiksi (biografi / memoar/ buku rohani).
2. Nama yang ada di judul adalah nama seseorang, bukan nama hewan peliharaan, bukan grup/perkumpulan (mis. The Mysterious Benedict Society).
3. Boleh nama lengkap, boleh nama panggilan, tapi bukan nama sandi (mis. The Day of the Jackal).
4. Membaca minimal 6 buku (lebih boleh dong) untuk reading challenge ini, mulai 1 Januari s/d 31 Desember 2012.
5. Boleh digabung dengan reading challenge lainnya yang kalian ikuti.
6. Judul yang sudah dicantumkan dari awal, boleh diganti dengan yang lain.
7. Pasang button Name In A Book Challenge 2012 di blogmu.

Dan ini buku-buku yang sudah saya rencanakan untuk dibaca (semua bukan buku baru beli, tapi tumpukan TBR):

1. The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More/ Roald Dahl/ Puffin Books

2. Lolita/ Vladimir Nabokov/ Penguin Books

3. Hector and the Search for Happiness/ Francois Lelord/ Penguin Books

4. Kafka on the Shore/ Haruki Murakami/ Vintage

5. Les Papillons de Victor (The Butterflies of Victor)/ Virginie Kasse, Melissa Sunjaya/ Tulisan

6. Fatima’s Good Fortune/ D & G Dryansky/ Matahati

7. ……

Now, start reading! :)

Mei

Posted in Book stuff | 6 Comments

Mirah dari Banda

Saya menemukan buku kecil ini, Mirah dari Banda, seperti menemukan suatu harta karun yang sekian lama terbengkalai, forgotten, waiting to be found. Buku kecil ini memang tampak kurang menarik diantara sejumlah buku keluaran baru yang terpampang di rak toko buku. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah setting cerita yang bertempat di kepulauan Banda, Maluku. Seberapa sering kita temukan cerita dengan setting Maluku? Belum lagi kisah tentang pohon cengkeh, pala dan rempah-rempah lainnya yang buat saya begitu spesial, menarik. Dan ternyata, buku sederhana ini memang memberikan pengalaman membaca yang sangat menggugah, menggugah rasa kebangsaan, bahkan jati diri sebagai manusia yang lebih universal.

Pekerja di kebun pala, buah pala, biji pala, dan fuli (kulit biji pala). Pohon pala bagi Banda, suatu anugrah ataukah bencana?

Kisah bergerak dari masa kini dengan banyak flash back  ke masa lalu, terutama ke jaman kolonial saat tuan-tuan tanah perkebunan pala dan cengkeh masih berkuasa di Banda. Dimulai dengan Wendy Higgins, seorang expatriat yang sedang tinggal di Indonesia, pergi berlibur ke kepulauan Banda ke rumah teman indonesianya yang berasal dari sana. Sejak awal, novel ini sudah memikat saya dengan penggambaran keindahan alam yang begitu natural, laut yang biru hijau, kadang biru kelam, pulau gunung berapi yang menjadi pemandangan sehari-hari dari depan rumah, suasana pesta santai di teras rumah yang menghadap laut, serta riwayat pohon pala yang demikian indah dideskripsikan. Di tempat itu, entah kenapa Wendy sangat tertarik pada sosok Mirah, seorang koki di dapur yang juga bekas buruh kebun pala pada jaman kolonial, yang kemudian menjadi nyai tuan besar saat itu.  Dalam riwayatnya, Mirah lalu melahirkan anak perempuan, Lili. Pada jaman Jepang, Lili dirampas tentara Jepang, menghilang selamanya dari kehidupan Mirah. Lili sendiri lalu meninggal dunia saat melahirkan anaknya di suatu kapal penyelamat Australia, dan sang bayi lalu diadopsi oleh sepasang suami istri Australia, dan diberi nama Wendy Higgins. Ya, Wendy yang sedang datang ke rumah itu adalah anak dari anaknya, Lili, yang tidak pernah ditemuinya lagi sejak tentara Jepang mengambilnya. Tapi tentu saja baik Mirah dan Wendy tidak menyadari hal itu, hanya saja keduanya memiliki ketertarikan khusus satu sama lain yang tidak bisa mereka jelaskan. Karena, keduanya memang saling mencari; Mirah, sampai kapan pun, selalu berharap akan bertemu kembali dengan Lili anaknya, dan Wendy selalu dalam pencarian mengenai orang tua biologisnya yang ia ketahui berdarah Indonesia. Apakah akhirnya mereka ‘bertemu’, menyadari sebagai keluarga sedarah? Tentu penulis mengakhiri kisah ini dengan sesuatu yang jauh dari klise, namun justru terasa sangat riil, menyentuh, dan masih terasa indah saat kita menutup halaman terakhir.

Saya sangat menikmati perjalanan yang disajikan penulis kembali ke masa-masa kolonial dan perjuangan indonesia, juga mengenai sejarah perbudakan maupun sejarah penanaman rempah. Memang banyak kisah-kisah yang menyayat hati, mengusik rasa kemanusiaan kita, namun semuanya disajikan dengan realisme yang begitu hidup sehingga membuat kita terus membacanya. Juga dalam hal penggambaran karakternya, kita dibawa masuk menyelami jiwa mereka, misalnya karakter Mirah, apa yang ia rasakan dan pikirkan saat ia kecil, menjelang dewasa, ataupun tua. Hanna Rambe, sang penulis, memang tampak sangat menyelami dunia bathin tokoh-tokoh yang terlibat, juga detil sejarah kolonial dan pasca kolonial, perbudakan, dan tidak kalah pentingnya siklus hidup pohon rempah dan alam Maluku. Konon ia menghabiskan waktu cukup lama untuk tinggal di Banda demi mengadakan riset mengenai tempat dan budayanya. Banyak percakapan juga terjadi dalam dialek bahasa lokal, yang ternyata sangat mudah dimengerti, tinggal lafalkan saja dalam benak kita dalam logat maluku yang kental, dan semua jadi terasa hidup.

Siapakah Hanna Rambe? Saya sendiri baru menemukan satu novelnya ini. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang melakukan riset mengenai subjek atau karakter dalam tulisannya secara detil dan mendalam sebelum mulai menulis. Hasilnya memang sangat mudah terasa dalam buku Mirah dari Banda ini. Seorang penulis dan jurnalis, tulisannya juga tersebar di beberapa media nasional. Saat ini Hanna Rambe telah pensiun dari dunia jurnalistik, dan menghabiskan waktunya dengan menulis dan mengajar bahasa Inggris. Novelnya yang lain adalah Pertarungan, sebuah novel ekologi terbitan IndonesiaTera (2002).

Penerbit Obor masih harus bekerja keras memperbaiki banyaknya salah ketik dalam buku ini. Sangat disayangkan buku yang isinya demikian bermutu ini hadir dalam kualitas fisik yang kurang baik. Jika saja semua kesalahan ketik itu diperbaiki, juga hadir dalam kualitas kertas yang lebih baik, tentu buku ini akan lebih memikat, benar-benar suatu collectable item dalam khazanah sastra sejarah/ perjuangan Indonesia. Di sisi lain, pemilihan cover menurut saya sangat tepat, diambil dari lukisan karya pelukis Indonesia dengan tema yang sangat pas, sangat erat dengan isi buku, dan terkesan ‘kuno’-nya.  Kembali ke buku ini, saya menemukan bahwa buku ini bukan sekedar novel sejarah, tapi suatu karya penulisan sejarah yang mengungkap sebentuk sejarah kemanusiaan yang penah ada di muka bumi ini. Buku ini juga dijual luas dalam edisi Inggrisnya di amazon berbagai negara dan menjadi koleksi perpustakaan di universitas-universitas dunia, juga sering saya lihat di Periplus. Sangat layak untuk dibaca, dan apakah juga dibaca luas di Indonesia? Suatu review mengenai buku ini, yang ditulis dengan sangat baik, bisa ditemukan di sini.

Mirah dari Banda/ Hanna Rambe/ Yayasan Obor Indonesia/ 2010 (2003)/ Bahasa Indonesia/ 392 hlm.

Posted in Literature (Classic/ Contemporary) | Tagged | 12 Comments

Dua Kisah Romance a la Murakami

Kali ini saya ingin membahas tentang dua buku Haruki Murakami yang saya baca beberapa bulan yang lalu, keduanya berlatar tema romance yang cukup kental.

Buku pertama adalah Sputnik Sweetheart, terbit pertama kali dalam edisi bahasa Jepang (Sputoniku no koibito) pada tahun 1999. Sumire adalah gadis usia awal dua puluhan yang ‘tidak populer’, selalu berpakaian agak serampangan dengan sweater dan jaket yang serba kedodoran, yang dia yakini sangat mirip dengan tokoh di novel Keruoac, penulis favoritnya. Sumire sendiri adalah seorang aspiring writer, yang masih berjuang menemukan bentuknya. Sementara itu ada Miu, seorang wanita setengah baya yang sukses dan glamor, selalu ‘chic’ dalam berpakaian, dan juga populer. Dua individu yang rasanya sulit untuk akhirnya bisa berteman, yang satu tenar, yang lainnya serba kikuk, sampai pada suatu kesempatan ketika mereka bertemu dalam suatu pesta dan terjadi dialog yang sebenarnya berawal dari kesalahpahaman (antara ‘sputnik’, satelit Rusia, dan ‘beatnik, aliran sastra dalam novel Keruoac). Sumire mendapati dirinya mendambakan Miu, dan didorong kegundahan menemukan dirinya ternyata seorang lesbian, Sumire menceritakan segala kegalauannya kepada teman setianya, K (seorang pria, guru sekolah, yang sampai akhir cerita tidak disebutkan namanya), tentang apa itu hasrat seksual, haruskah ia menceritakan perasaannya kepada Miu, dan segala hal lainnya sampai ke masalah arti hidup. K selalu mendengarkan dengan perhatian yang tulus, karena ia pun sebenarnya mencintai Sumire, namun tidak pernah ia ungkapkan. Frustrasi karena perasaannya sendiri, K lalu menjalin affair dengan wanita lain, seorang ibu dari salah satu muridnya. Sampai pada suatu momen, saat Miu yang kebingungan menelpon K karena sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi pada Sumire.

Novel ini saya katakan berlatar romance, namun yang sangat jelas diungkapkan menurut saya adalah tema kesepian. Berlembar-lembar halaman buku ini seperti merintihkan kesepian, bagaimana berada di suatu tempat yang kosong, menggapai tapi selalu tak tercapai. Tokoh-tokoh dalam cerita ini pun tampak saling berhubungan, sekaligus saling terasing satu sama lain. Lihat saja Sumire dan Miu, juga K dengan Sumire, dan si wanita dengan siapa K menjalin affair. Judul Sputnik Sweetheart pun menurut saya menunjukkan kejeniusan sang penulis dalam menggambarkan tema buku ini dalam dua patah kata, yang sangat pas dengan isi buku sekaligus mengusik keingintahuan. Kenapa Sputnik? Sputnik I adalah nama satelit buatan Rusia (kala itu Uni Soviet), suatu satelit pertama yang pernah dibuat oleh manusia, pada tahun 1957. Sputnik I berhasil mengorbit bumi dalam rentang waktu tertentu dan kembali ke bumi. Sebulan kemudian di tahun yang sama, Sputnik II diluncurkan dengan Laika, seekor anjing, di dalamnya, yang sekaligus menjadikan satelit ini satelit bermuatan makhluk hidup pertama yang pernah diluncurkan. Sayangnya, satelit Sputnik II, beserta Laika di dalamnya, tidak pernah kembali ke bumi, ia melayang, menghilang di keluasan dan ‘kekosongan’ jagat raya yang gelap tak bertepi… Membaca fakta sejarah ini saja sudah menyiratkan rasa sepi dan kosong, dan sepertinya memang itulah yang ingin disampaikan buku Sputnik Sweetheart ini.

Buku kedua adalah South of the Border, West of the Sun (Kokkyo no minami, taiyo no nishi, 1992). Kali ini tema romance-nya lebih kental, walau tetap ada unsur ‘keterasingan’ dalam bentuk yang berbeda. Hajime adalah anak tunggal dari suatu keluarga menengah di kota kecil di Jepang. Saat itu, masa post-war Jepang, menjadi anak tunggal termasuk langka, jika tidak dipandang aneh. Orang-orang dewasa dan mungkin juga teman-temannya akan memasang muka aneh , kadang prihatin, jika Hajime mengatakan bahwa ia tidak punya kakak ataupun adik. Semua temannya pasti punya kakak atau adik. Sepertinya ada anggapan yang ‘kurang’ dalam diri seorang anak tunggal. Hajime sering menyendiri dalam kesehariannya dan tidak merasa masalah dengan hal itu. Teman satu-satunya saat masa sekolah itu adalah Shimamoto, seorang anak perempuan yang juga merupakan anak tunggal di keluarganya. Shimamoto bukanlah tergolong cantik, bahkan ia memiliki suatu kecacatan fisik yang begitu kelihatan, namun tanpa harus banyak menjelaskan, Hajime merasa mereka mengerti satu sama lain. Kenangan terindah masa itu adalah saat berjalan pulang bersama, dan menghabiskan waktu yang tenang di rumah Shimamoto, mendengarkan koleksi musik ayahnya, musik klasik atau jazz jaman itu. Pretend dari Nat King Cole atau South of the Border dari Frank Sinatra, sangat membekas di benak Hajime. Bertahun-tahun kemudian, setiap mendengar alunan musik itu, Hajime terbawa langsung ke ruang duduk di rumah Shimamoto di siang yang tenang dan segala kenangan tentang gadis itu.

Kehidupan berjalan, mereka pindah kota dan berpisah, dan memasuki masa remaja yang riuh dengan dunianya masing-masing, namun tidak pernah Hajime menemukan sosok teman yang intim seperti Shimamoto. Kini Hajime telah dewasa, sukses sebagai pemilik bar jazz yang happening di Tokyo, menikah dengan seorang wanita cantik putri keluarga kaya, dan memiliki dua anak perempuan yang manis. Kehidupan yang lurus-lurus saja. Lalu tiba-tiba Shimamoto muncul kembali dalam kehidupan Hajime. Ia tampak jauh berubah, menawan sekaligus penuh misteri. Bagaimana kehidupan Shimamoto sejak mereka berpisah di masa sekolah dulu? Hajime terserap kembali ke masa lalu, segala perasaannya hidup kembali, dan begitu kuat. Akankah ia mempertaruhkan kehidupannya yang tenang sekarang untuk menggapai yang dulu hilang? Apakah ia akan terus berpura-pura bahagia sementara hatinya terasa hampa? “Pretend you’re happy when you’re blue, it isn’t very hard to do” (Pretend, dari Nat King Cole). Apakah mungkin ia menggapai yang dulu hilang? Apakah masih ada? Saat matahari terbenam di barat, adakah sesuatu di baliknya? “…what is there, west of the sun?” (hlm. 156).

Tema romance yang cukup biasa, pergolakan yang dialami Hajime pun bukan sesuatu yang tidak umum. Memang Murakami menyajikannya dengan cara yang agak berbeda, terutama di bagian awal cerita, tapi selanjutnya, saya hanya menemukan sekedar cerita romance, dengan karakter yang khas Murakami.

Tapi, saya suka dengan seri cover buku Murakami dari Vintage ini!

koleksi Murakami-ku yang keluaran Vintage

Sputnik Sweetheart/ Haruki Murakami/ Vintage/ 2002 (1999)/ English/ 229 hlm.

South of the Border, West of the Sun/ Haruki Murakami/ Vintage/ 2003 (1992)/ English/ 187 hlm.

Posted in Literature (Classic/ Contemporary) | Tagged | 9 Comments

wishing you a blessed 2012!

from www.dreamripples.tumblr.com

Posted in Book stuff | 2 Comments