September 18, 2008

The Wizard of Oz

The Wizard of Oz

L. Frank Baum

Aladdin Classic, New York, 1999

Children Fiction, bahasa Inggris, 198 hlm

 

Buku ini sudah saya kenal lama, sudah sering saya dengar dari cuplikan atau referensi yang dibuat oleh banyak penulis, bahkan dari beberapa buku management yang mengambil inspirasi dari cerita karangan L. Frank Baum ini dan menciptakan suatu jargon yang bernama “the management of oz”. Namun, baru kali ini saya berkesempatan benar-benar membacanya utuh dari edisi asli pengarangnya (karena banyak versi the wizard of oz ini dari pengarang-pengarang lain). Dan memang, buku ini langsung mengesankan saya dari awal hingga akhir, dengan karakter tokoh-tokohnya dan pesan moral yang menurut saya memang mendasar sekali. Saya hanya membayangkan jika saya membacanya ketika saya masih kecil, tentu imajinasi tentang negeri oz ini juga akan terus menempel dalam benak saya, juga pesan-pesan yang disampaikan yang terasa benar-benar berbicara langsung. Saya pun membayangkan betapa beruntungnya anak-anak kala itu yang berkesempatan mendengarkan langsung L. Frank Baum menceritakan secara lisan kisah ini (konon Baum sendiri adalah pencerita yang ulung). Andaikan saya termasuk dari anak-anak tersebut, sudah pasti saya menjadi langganan tetap beliau dan mendengarkannya sambil imajinasi saya berkelana sejauh-jauhnya…

Baiklah, jadi tentang apa sih buku ini? Ceritanya sebenarnya sederhana saja. Adalah Dorothy, seorang anak perempuan yang tinggal di Kansas bersama paman dan bibinya. Mereka tinggal dalam sebuah rumah yang sederhana dengan padang rumput luas yang digambarkan serba kelabu. Dorothy juga tinggal bersama anjingnya, Toto.

Suatu hari, paman Dorothy melihat angin tornado di kejauhan dan memperingatkan semuanya untuk berlindung di ruang bawah tanah. Namun karena sedang menyelamatkan Toto, Dorothy belum sempat mencapai pintu ruang bawah tanah ketika badai angin tersebut menghantam rumah mereka. Dorothy lalu berputar bersama rumah itu terbawa angin, melayang jauh dan akhirnya mendarat di suatu negeri antah berantah. Dari sinilah pengalaman Dorothy dimulai.

cover buku asli terbitan th. 1900

cover buku asli terbitan th. 1900

Ternyata Dorothy bersama rumahnya mendarat di suatu negeri imajiner, dimana semuanya tampak indah dan berwarna, dengan taman dan bunga-bunganya serta langit biru menawan. Walau demikian, Dorothy ingin kembali ke tempat asalnya di Kansas dan bertemu kembali dengan paman dan bibinya. “There’s no place like home” adalah jawaban Dorothy atas pertanyaan mengapa ia ingin kembali ke Kansas yang serba kelabu itu. Di negeri itu ternyata hidup sekelompok orang dewasa kecil dan dari mereka Dorothy disarankan untuk pergi ke the Emerald City of Oz dan bertemu dengan sang Oz yang menurut mereka dapat membantu Dorothy kembali ke tempat asalnya. Maka berjalanlah gadis kecil itu kenuju arah kota emerald Oz yang ditunjuk. Nah, dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan tiga tokoh utama lain dalam cerita ini, yang senantiasa menemaninya dalam perjalanan-perjalanan berikutnya.

Pertama, Dorothy bertemu dengan Scarecrow, ’seorang’ orang-orangan sawah yang dipatok di sebuah tonggak kayu di tengah kebun untuk menakut-nakutin burung gagak. Scarecrow ingin memiliki otak sungguhan, dan bukan setumpuk jerami yang dijejalkan di kepalanya, agar ia bisa berpikir dan pintar seperti orang-orang lain. Maka ia akhirnya berjalan bersama Dorothy menuju tempat Oz untuk memohon memberinya otak di kepalanya dan berjalanlah mereka berdua meneruskan perjalanan.

Dalam perjalanan berikut, mereka bertemu dengan the Tin Woodman yang tertancap di sebatang pohon kayu yang sedang ditebangnya. Mereka lalu menolong the Tin Woodman dan karena the Tin Woodman ini ingin sekali memiliki hati sungguhan di dalam dadanya agar ia bisa benar-benar mencintai, maka ikutlah ia bersama dua teman barunya itu menuju tempat Oz. 

Saat masuk hutan mereka bertemu dengan seekor singa, yang walaupun aumannya terdengar sangat menakutkan, namun sebenarnya ia merasa takut. Sang singa pun ingin sekali memiliki keberanian untuk bisa benar-benar menjadi raja hutan seperti sebutan yang biasa diberikan kepada singa, dan berharap sang Oz dapat memberikannya. Maka berjalanlah mereka berempat ke arah kota emerald Oz tersebut.

Perjalanan ke tempat Oz ini tidaklah mudah sama sekali. Selalu ada rintangan dalam berbagai bentuk, apakah itu rintangan fisik berupa jurang yang dalam atau sungai yang deras, atau berupa musuh atau makhluk lain yang mengganggu. Setiap menghadapi rintangan itu mereka bekerja sama dan dengan memberikan apa yang masing-masing miliki, keterampilan menebang kayu dari the Tin Woodman, ide-ide dari pengamatan dan pengalaman si Scarecrow, auman maut sang singa, maupun karisma si gadis sederhana Dorothy, hingga akhirnya mereka berhasil mencapai the emerald city of Oz. Namun setelah lelah melewati sekian rintangan itu ternyata jawaban tidak langsung begitu saja didapat dari sang Oz. Masih ada tugas-tugas lain yang mengharuskan mereka melakukan sekian perjalanan lagi, sampai akhirnya mereka menemukan suatu kenyataan yang tidak terduga dan lagi dan lagi melakukan perjalanan yang penuh rintangan. Dalam seluruh perjalanan itulah Baum menuangkan pesan-pesan moralnya, yang diceritakan sedemikian rupa sehingga pesan yang menurut saya sangat mendasar itu bisa terasa sangat membumi.

Hal yang senantiasa bergema di sepanjang cerita adalah bahwa kita pada akhirnya harus percaya pada diri sendiri, pada kekuatan sendiri yang sebenarnya selalu ada didalam diri kita. Namun sering kali kita merasa tidak memiliki apapun dan lalu berjuang untuk memilikinya, yang seringkali membawa kita toh kembali ke dalam diri untuk menemukannya. Kekuatan-kekuatan ini, jika bersatu, akan menjadi modal yang sangat berharga. Hal ini menurut saya dapat dilihat dalam berbagai dimensi, apakah dalam dimensi ketika menghadapi masalah sehari-hari, dalam pekerjaan, dalam manajemen organisasi, sampai dalam dimensi spiritual (dimana kebahagiaan dan bahkan Tuhan akhirnya kita temukan dalam diri/ hati kita sendiri). Modal percaya pada diri sendiri inilah yang menurut saya sangat mendasar. Pada akhirnya keempat sekawan itu berhasil mengatasi segala rintangan bukan oleh apapun dari luar diri mereka, tapi dari sumbangan-sumbangan kekuatan dari dalam diri mereka sendiri. Scarecrow yang merasa tidak pintar karena tidak memiliki otak, toh pada akhirnya yang paling sering mengungkapkan ide-ide brilian pemecahan masalah. The Tin Woodman yang merasa tidak memiliki hati ternyata paling cepat merasa jatuh kasihan, dan sang singa dalam beberapa situasi berhasil mengeluarkan keberanian dalam dirinya untuk menolong teman-temannya. Dorothy sendiri pun selama itu ternyata membawa modal yang sangat penting dan berguna namun tidak ia sadari.

Dan akhirnya sang Oz memberikan jawaban telak bagi permintaan-permintaan mereka. Kepada Scarecrow ia berkata bahwa ia tidak bisa memberinya otak karena toh tidak ia butuhkan, pengalamanlah yang memberinya pengetahuan atas segala sesuatu. Seperti layaknya seorang bayi yang baru lahir yang memiliki otak tapi tidak tahu bagaimana menggunakannya, pengalaman adalah sesuatu yang mengantarnya pada pengetahuan, dan semakin lama ia hidup semakin banyak pengalaman yang didapatnya (hlm 148). Kepada sang singa yang penakut, Oz berkata bahwa ia sebenarnya telah memiliki banyak keberanian, yang dibutuhkan adalah percaya pada diri sendiri. Oz menambahkan bahwa tidak ada satu makhluk hidup pun yang tidak pernah takut ketika menghadapi bahaya, keberanian sejati adalah berani menghadapi bahaya ketika kita merasa takut, dan Oz percaya sang singa telah membuktikan semua itu (hlm 148). Oz memperingatkan the Tin Woodman bahwa memiliki hati adalah juga memiliki resiko merasa sedih, kecewa dan perasaan tidak bahagia lainnya (hlm 149).

Namun karena cerita ini adalah suatu cerita anak-anak, tentu pendengarnya yang anak-anak menginginkan suatu akhir yang tidak mengambang, suatu penutup yang ”happy ending”. Maka walau mengatakan semua itu, Oz tetap memberikan kepada mereka semua yang mereka inginkan, apakah itu merupakan suatu yang sungguhan atau semu, menjadi tidak begitu penting. Pada akhirnya semua merasa “happy” karena mengetahui dalam dirinya sudah ada atau sudah terberi yang mereka butuhkan itu; Scarecrow mendapatkan sebongkah otak di kepalanya, the Tin Woodman mendapatkan sepotong hati di dalam dadanya, dan sang singa mendapatkan keberanian dalam dirinya. Lalu bagaimana dengan Dorothy? Ya, tentu akhirnya tetap merupakan “happy ending” sepeti yang lainnya, dan ternyata yang ia butuhkan untuk kembali ke Kansas itu sudah ada dan malah melekat pada dirinya selama ini. Dalam memilin alur cerita, Baum menurut saya sangat jenius.

Begitulah Baum memberikan suatu pesan yang sangat penting bagi anak-anak, maupun bagi orang dewasa tentunya, dengan cara yang sangat sederhana. Di beberapa sudut cerita ia juga menempatkan beberapa pesan moral lainnya, seperti bahwa kita harus juga menghargai sesuatu yang tampaknya kecil dan tidak berharga, karena seringkali sesuatu yang kecil itu justru yang mampu menghancurkan kita atau sesuatu yang kita remehkan justru yang mampu memberikan jalan keluar terbaik dan menolong kita. Hal ini misalnya tertuang pada: …the Cowardly Lion laughed, and said: “I have always thought myself very big and terrible; yet such little things as flowers came near to killing me, and such small animals as mice have saved my life. How strange it all is!…. (hlm 78-79). Hal senada juga terungkap ketika ide akhir pemecahan masalah mereka dapatkan dari penjaga gerbang the emerald city, yang selama ini dianggap begitu tidak penting sampai-sampai tidak pernah dirasa perlu masuk ke dalam ruangan Oz. Suatu ide manajemen yang baik sekali.

Hal lain yang saya juga petik adalah bahwa kita seringkali lupa bersyukur, bahwa segala “kekurangan” kita sebenarnya juga merupakan keberuntungan kita. Seperti yang diucapkan Scarecrow ketika baru melewati the Dainty China Country yang penuh dengan boneka porselen yang rapuh: “and I am thankful I am made of straw and cannot be easily damaged. There are worse things in the world than being a Scarecrow.” (hlm 180). 

Akhirnya segala modal dan kekuatan yang kita sudah miliki itu harus senantiasa diasah agar bisa berguna dan menjadi lebih baik. Seperti yang diungkapkan oleh tokoh Glinda, the wicked witch yang baik hati, kepada the Tin Woodman yang akan memimpin negeri the Winkies: “… Your brain may not be so large to look at as those of the Scarecrow, but you are really brighter than he is – when you are well polished…” (hlm 193). 

Baum menggambarkan karakter tokoh-tokohnya dengan kuat, dan Dorothy digambarkan sebagai gadis kecil yang jujur, baik hati namun berani ketika harus menghadapi yang dianggap tidak benar. Suatu karakter yang saya cintai. Saya juga suka sekali dengan ilustrasi cover buku keluaran Aladdin Classic ini, dimana sang gadis kecil, yang saya percaya sebagai Dorothy, digambarkan sebagai seorang yang serius (dari tatapan matanya), namun lembut (dengan tangannya yang menggenggam seikat bunga liar), dengan latar belakang berupa padang rumput luas khas bagian tengah Amerika, sesuai setting cerita ini. Suatu buku yang pantas dikoleksi dan layak disebut klasik.

The Wizard of Oz pertama kali terbit pada tahun 1900 di Chicago oleh penerbit George M. Hill dan menjadi awal dari serangkaian cerita dalam seri Oz yang total berjumlah 14 judul. Ketigabelas judul sekuelnya baru terbit antara tahun 1960 – 1986. Film The Wizard of Oz telah dibuat oleh MGM pada tahun 1939. Buku ini dipersembahkan Baum kepada istrinya, yang dianggapnya sebagai “my good friend and comrade”, sepertinya juga menjadi cerminan hubungan antara Dorothy dan teman-temannya.

Mei

Pau, 18 Septembre 2008

May 12, 2008

The Book Thief

The Book Thief

Markus Zusak

Novel, Random House, 2007

554 pages, English

This seem-to-be-a-children-book moved me quite much. With setting around the world war II in Germany, this book tells a story about some people in Germany in their daily lives facing the war. There are germans and jews, and young soldiers that join Nazi. But unlike most books about the second world war and in Germany in particular, the story is not told from a point of view of a jew, as wellknown victims, but from that of a young german girl. How life is observed by her child eyes and how war can powerfully ruin everybody’s life, the jews as well as the germans. Everybody’s.

One thing that makes this book uncommon and intriguing is the fact that the story is narrated by someone, or perhaps, something, called Death. How intelligent Zusak is in finding a way to convey his story. Death, as someone who is always hovering around and above, tells stories of those whose lives he is about to take, or whose lives that are in many times so near with him.

The book thief. It is a small story about books, about the power of words, and of course, about some acts of thievery. The main character is the little german girl called Liesel Meminger, whose mother because of the war and the severe condition she was in, was forced to let her daughter and her son to be adopted by an old couple, Hans and Rosa Hubermann in Himmel street, Molching. On their way to Molching, Liesel’s brother could not make it; he passed away just lying on the train floor. This vision of his brother passing away was always in Liesel’s mind and haunted her in a form of nightmare till months after.

That was Hans Hubermann, or papa, who always came down to Liesel’s room and soothed her after the nightmare. And that was papa also who taught her reading and built in her a huge love of words. A love that was huge enough to move her to several acts of thievery, a book at once, to read in her bedroom, to kill the passing difficult times, to transfer her into another world. Those were words and books that eventually soothed Liesel in her toughest times during the war. Words and books also created a deep bond between her and her papa, and between her and a young jew that that they hid in their basement. The bond between Liesel and Max, the jew, was touching, and it moved me quite much when I read the sketches Max made for Liesel. The story about Max is also quite moving; it is about having turn in helpng others and about keeping promises.

As for mama, Rosa Hubermann, she was quite difficult to be with, at least it seemed. Always calling Saumensch (sau means pig) to Liesel and Saukerl to her husband, she threw her orders and told everyone what to do. Though complaining much, she did whatever to be done during the tough times then, making soup and running the home and the economy. At the end we know that actually she was a lovely woman, she was just being protective and she cared much for her family, Liesel and her neighbours. How different the inner from the outer beings.

As a normal child at her age (9 years old), Liesel went to school and was being friend with the others. The one that was very near was Rudy, with whom she did the adventures of thievery. “In years to come, he (Rudy) would be a giver of bread, not a stealer — proof again of the contradictory human being.” (page 171). Rudy and Liesel grew together, with times of battling and helping each others. But the fates of their lives were quite different. 

The Death, narrated the story from his hovering view. Sometimes he said a kind of bitter humour, about his job (taking lives of human beings) or about human souls. But each act that he made, the death, was done with care, whether it was the soft soul of the children and the hard soul of the angry soldiers.

Zusak wrote The Book Thief in ten parts, each consists of several short chapters. Each chapter contains a part of a kind of lines of words, like a poem, making this reading unique and rather poetic, though not lyrical. If you look for a common linear plot here, you’ll not find it. It is more like a pile of photographic events, sometimes, yes, quite linear, but not always, from the hovering view of Death. In some places Death gives us a spoiler, a glimpse about the end, but even so, it does not ruin the curiosity and the emotions in finding out how the story strolls next.

 Zusak himself is a son of german parents. He now lives in Australia. Some visions about daily lives during the war time he got from his mother, who told him two stories that affected him quite much; one was about  Munich being bombed, when the sky was all red, and another was about the jews being in a parade. Pretty much I found those visions in this book. 

Another book that reminds us about humanity, in its purest meaning. This time from the eyes of a child.

Mei, Pau France, 12 May 2008

May 12, 2008

Can You Keep a Secret?

can-you-keep-a-secret_sophie-kinsella.jpgCan You Keep a Secret? 

Sophie Kinsella

Novel, Bantam Dell, 2004

374 hlm, Bahasa Inggris

Buku yang sudah selesai dibaca sekian lama yang lalu. Buku yang sudah terbit lama juga sebenarnya, tapi baru saya baca beberapa bulan lalu. Baru sempat juga ditulis sekarang karena “kesibukan” saya sehari-hari di sini….

Masih khas general fiction chicklit a la Sophie Kinsella, novel ini mengisahkan seorang wanita muda bernama Emma Corrigan, yang, sesuai kalangan khas genre chicklit, masih berusaha memantapkan karirnya. Dalam suatu penerbangan kembali ke London dari suatu pertemuan bisnis di Glasgow, dan dalam kepanikan karena takut berada dalam pesawat yang sedang terbang dalam turbulence, Emma tanpa sengaja meracau dan membeberkan semua rahasia pribadinya, benar-benar pribadi, kepada seorang pria penumpang yang duduk di sebelahnya. Setelahnya, tentu saja Emma merasa malu tapi lalu berniat melupakan semuanya karena toh tidak akan bertemu lagi dengan pria tersebut.  Kisah tentu tidak berhenti di sini, karena selanjutnya ternyata sang pria tersebut adalah the ultimate guy, sang pemilik perusahaan, tempat Emma bekerja.

Situasi menjadi sedikit rikuh ketika sang pria, Jack Harper, datang ke London untuk mengadakan serangkain pertemuan di kantor Emma, dan mereka harus “pura-pura” tidak pernah bertemu satu sama lain dan “pura-pura” menganggap segala kejadian di kursi pesawat antara Glasgow dan London itu tidak pernah terjadi. Masalahnya, Jack juga punya kepentingan untuk merahasiakan keberadaanya di pesawat dari Glasgow itu. Sebabnya kenapa, baru diungkap di dekat akhir kisah.

Berpura-pura bukanlah hal yang gampang. Apalagi teman-teman kantor Emma melecehkan posisinya yang masih sebagai asisten untuk dianggap “tidak perlu” ikut dalam meeting dengan Jack Harper, orang nomor satu di kantor mereka. Padahal, Emma kenal cukup dekat dengan sang ultimate guy ini. Keadaan menjadi sedikit kompleks dengan kenyataan bahwa pacar Emma, Connor, adalah juga pegawai di kantor yang sama.  

Bagaimana ujung dari masalah main rahasia ini? Akankah semuanya akhirnya terbongkar, dan dengan cara apa? Kinsella meramu kisah dengan cukup seru. Banyak bagian yang saya anggap tidak terduga. Penulis juga tidak banyak bermain klise di sini. Kalaupun ada hal klise yang terjadi, alur cerita menuju akhir tetap diramu dengan cara yang unik. Ujung adegan bukanlah hal yang biasa, dan di setiap akhir dari suatu adegan adalah juga merupakan awal dari adegan berikut. Jadi, sepanjang buku ini mengusik keingintahuan.

Penulis juga berhasil mempresentasikan emosi dalam dinamika hubungan keluarga, antara Emma dan ayah ibunya, sepupunya Kerry yang telah sejak lama tinggal bersama mereka, dan kakek Emma. Kisah Emma dan Jack Harper dan Emma dengan kelurarganya ini berhasil diramu dan ditemukan dengan cara yang unik dan membuat pembaca berpihak pada Emma dan ikut ‘bersorak’ ketika situasi berpihak padanya.

Walau demikian, alasan mengapa Jack Harper harus merahasiakan keberadaannya di Glasgow menurut saya agak sedikit mengada-ada. Tapi sebagai keseluruhan kisah, cukup masuk akal juga, walau saya pikir agak jarang terjadi.

Akhirnya, sebuah buku yang menghibur. Pengalaman kedua saya dengan Sophie Kinsella, setelah bukunya yang pertama saya baca, The Undomestic Goddess. Seru, menghibur, ringan, dan tidak klise. Dalam Can You Keep a Secret ini Kinsella mempertanyakan ”haruskah kita bersikap jujur pada semua orang?” dan “haruskah kita menyimpan beberapa hal sebagai rahasia bagi diri kita sendiri?”

“What are you thinking about?” and I said, “Oh, nothing,” that wasn’t quite true. I was actually planning the names of all our children. (page 374).

Mei, Pau France, 12 May 2008

   

February 3, 2008

Always the Bridesmaid (Sang Pendamping Pengantin)

always-the-bridesmaid.jpgAlways the Bridesmaid (Sang Pendamping Pengantin)

Sarah Webb

Novel, Gramedia Pustaka Utama, 2004

544 hlm, Bahasa Indonesia

Novel ini termasuk chicklit yang saya baca yang akhirnya membuat saya kesal juga. Karena, sang tokoh utama lebih merupakan suatu personage yang selalu berpikir negatif, sangat moody yang tiba-tiba bisa membentak orang-orang terdekatnya begitu saja, yang mengidealkan sesuatu yang klise, dan yang tidak tahu jelas perasaan atau kemauannya. Ya, bukan tokoh yang bisa kita sukai, saya pikir. Memang dalam suatu cerita, apalagi chicklit, seringkali kita temukan tokoh yang memang tidak sempurna, dan sebagian tujuan chicklit memang menampilkan tokoh yang tidak sempurna itu dengan tujuan membuat pembacanya merasa “gue banget”. Tapi, tokoh Amy dalam buku ini memang sangat negatif. Misalnya, ia merasa buruk ketika orang lain berpendapat buruk, ia merasa lebih baik ketika mengetahui bahwa orang lain pun juga tidak sukses atau punya kekurangan, ia tidak rela orang lain lebih bahagia daripada dirinya. Sejenis itulah. 

Ditambah lagi, kisah ini dalam beberapa hal memang tidak realistis dan agak terlalu  ‘berpihak pada Amy’. Dengan sikapnya yang negatif dan sering marah-marah tak jelas alasannya itu, orang-orang di sekitar Amy tetap saja super baik pada Amy, membantu, mengerti perasaannya, memaafkan walau sudah dibentak, dan bahkan menunggu dan memujanya. Sangat tidak realistis. Saya pikir orang seperti ini biasanya sudah dijauhi teman-temannya, atau paling tidak teman-temannya walau mengerti keadaan moodnya, pasti agak enggan untuk berteman dengannya. Tapi di sini tidak sama sekali.

Cerita mengungkap hal yang sangat klise, yaitu Amy yang sudah mendekati usia 30 tapi belum akan menikah, malah baru putus dari pacarnya. Keadaan dirasa tambah buruk ketika adik Amy, yaitu Suzy, justru akan menikah dalam waktu dekat dengan seorang pemain rugby asal Australia, yang sudah pasti berbadan tegap, gagah, ditambah pula super baik. Selain itu, Beth sahabat Amy, juga akan menikah. Sementara itu Jack, bekas pacar Amy, yang memang ia putuskan karena sudah merasa tidak cocok, akhirnya membina hubungan dengan Jodie, sahabat Amy yang lain. Tentu kita juga maklum perasaan Amy menghadapi itu semua. Cuma saya agak merasa terlalu berlebihan kisah-kisah Amy yang sangat memusuhi Jodie dan ingin mencelakakannya atau yang akhirnya ingin kembali mendapatkan Jack walau Amy sendiri sudah punya pacar. Pacar Amy pun seorang yang tampak sangat ideal, terkenal, berhasil dan kaya. Klise lagi. Penulis tidak begitu berhasil menggambarkan perasaan-perasaan Amy dengan jelas dan tajam, seringkali bercampur, dan menegasikan perasaan yang baru diceritakannya di alinea sebelumnya.

Jadi chicklit ini, walaupun di beberapa bagian (terutama awal) cukup menghibur, tidak begitu mengesankan. Ia justru menegaskan kembali klise-klise yang ”dianut kaum cewek”, yaitu ”the prince charming”, menikah di bawah usia 30, merasa bahagia ketika sudah dilamar cowok, merasa tampil bagus dan percaya diri baru ketika orang lain memuji, dan sejenisnya. Buku ini jauh dari mengajarkan ‘kaum cewek’ untuk mengenali perasaannya sendiri, memahami kemauannya, menentukan nasibnya sendiri, mengambil keputusan dan menerima konsekuensinya. Sayang. Tapi toh saya selesaikan juga membacanya..

 Mei, Pau France, 3 February 2008 

February 3, 2008

La Petite Fille de Monsieur Linh

la-petite-fille-de-monsieur-linh.jpgLa Petite Fille de Monsieur Linh

Philippe Claudel 

Novel, STOCK, 2005

184 hlm, Bahasa Perancis

Philippe Claudel termasuk penulis kontemporer dalam dunia literatur perancis. Lahir pada tahun 1962, ia sempat mengajar bahasa perancis di sekolah menengah dan  sekolah khusus anak dengan keterbatasan motorik, serta sempat pula mengajar antropologi budaya dan sastra di Universitas Nancy II. Beberapa pengalamannya, termasuk pengalamannya mengajarnya di sebuah penjara, menjadi ispirasinya dalam menulis novel. 

philippe-claudel-foto.jpg

Novel La Petite Fille de Monsieur Linh termasuk novelnya yang lumayan pendek. Buku-bukunya yang lain saya lihat cenderung lebih tebal. Terbit pada tahun 2005, buku ini mengisahkan tentang seorang tua bernama Monsieur Linh yang pergi meninggalkan negrinya dengan sebuah kapal menuju negri lain, bersama dengan seorang bayi perempuan dalam pangkuannya. Claudel memilih untuk tidak menjelaskan secara rinci di awal cerita kenapa Monsieur Linh harus pergi meninggalkan negrinya, apa yang terjadi atau kemana ia pergi. Claudel lebih memilih untuk mengelaborasi secara detil perasaan yang dialami Monsieur Linh, ingatannya akan negrinya, sensasi-sensasi indranya, seperti ingatan akan penciuman atau bau tertentu yang mengingatkan akan kampung halaman, atau ingatan akan imaji pemandangan di sekitar kampung halaman. Namun melalui elaborasi ini, pembaca lalu menyimpulkan latar belakang cerita dan apa yang terjadi.

Monsieur Linh adalah seorang tua yang harus pergi meninggalkan negrinya karena perang. Keluarga dan rumah serta teman-temannya telah menjadi korban perang dan tinggallah ia dan cucu perempuanya, sang Petite Fille, anak dari anak laki-lakinya yang juga mati oleh perang. Mereka berdua selamat dan karenanya lalu mengungsi. Cerita berlanjut dengan sampainya ia di tanah seberang, di sebuah kamp pengungisan, yang diurus dengan cukup rapi oleh suatu organisasi yang mengurus kaum pengungsi. Di sinilah, Monsieur Linh merasa sangat sendiri, ia tidak berbicara pada siapa pun, ia rindu pada masa lalu, pada wajah-wajah dan segala bau yang ia kenal, dan ikatannya pada masa depan adalah hanya pada si bayi perempuan, cucunya itu, yang membuatnya merasa harus tetap hidup dari hari ke hari.

Setiap pagi Monsieur Linh berjalan-jalan di sekitar tempat pengungsian, menuju kota, duduk di taman, bersama sang Petite Fille. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan seorang laki-laki setengah baya yang juga sering duduk di bangku taman tersebut. Monsieur Bark, nama laki-laki itu, selalu mengajak omong Monsieur Linh, yang awalnya tetap diam karena keterbatasan bahasa diantara mereka. Walau demikian, Monsieur Linh selalu mendengarkan apa yang dibiacarakan oleh temannya itu, dan pada akhirnya, momen pertemuan dua teman di bangku taman itu menjadi momen yang selalu dirindukan Monsieur Linh setiap hari.

Di sini Claudel tidak begitu jelas menjelaskan dari mana asal Monsieur Linh dan dimana dia sekarang berada. Dugaan saya adalah Monsieur Linh berasal dari Vietnam, suatu negri yang sempat terporak-porandakan oleh suatu perang dengan Perancis, dan kini Monsieur Linh diungsikan ke Perancis, dan bertemu dengan Monsieur Bark. Kepada Monsieur Bark, Monsieur Linh menyebutkan namanya sebagai Tao-Lai. Beberapa adegan dan cerita-cerita Tao-Lai tentang pemandangan negrinya menguatkan dugaan saya tersebut. Juga suatu kata yang baru dipelajari Monsieur Linh di negri barunya ini, yaitu “bonjour”. Cerita mengalir dengan agak berkelok, tentang beberapa perubahan hidup yang harus dialami Monsieur Linh sebagai pengungsi, yang membuatnya tidak dapat lagi setiap pagi menunggu temannya di bangku taman, dan membuatnya sangat merindukan temannya itu.

philippe-claudel_foto2.jpgBuku ini, menurut saya, mengisahkan suatu pertemanan yang sejati, yang saling merindukan, yang tak terbatas pada batasan negara maupun sejarah dari keduanya. Pertemanan yang membuat kita tahu bahwa sang teman akan menunggu kita, akan tetap ada di sana, yang memahami kita walau tiada kata yang dipahami keduanya, kecuali satu kata “bonjour” tersebut.  Juga tentang keterasingan di suatu tempat yang serba baru, yang membuat indra kita tiba-tiba menjadi tumpul, tidak mencium bau apa pun, tidak mengenai warna apa pun, semua sama dan menjadi tidak bermakna. Perasaan yang tidak menjejak bumi, yang mengawang. Juga tentang harapan dan perjuangan dari seorang tua akan hidup cucunya, generasi berikutnya, satu-satunya hal yang mengikatnya ke masa depan. Demikianlah, Claudel tidak banyak bercerita tentang struktur ceritanya, lebih pada perasaan-perasaan. Di sisi lain, saya juga menemukan keunikan dari kisah ini, yaitu sebuah persahabatan yang erat tanpa banyak kata-kata dari dua orang laki-laki tua. Sangat jarang diungkap, menurut saya.

Untuk beberapa bukunya, Claudel telah memenangkan beberapa penghargaan di bidang literatur Perancis, di antaranya adalah Le Prix Marcel Pagnol dan Le Prix France Télévisions untuk novelnya Quelques-uns des Cents Regrets pada tahun 2000, Le Prix Goncourt de la Nouvelle untuk Le Petites Mécaniques dan Le Prix Renaudot untuk novelnya Les Âmes Grises pada tahun 2003, dan pada tahun 2007 ia memenangkan Le Prix Goncourt des Lycéens untuk novelnya Le Rapport de Brodeck. Beberapa dari novelnya juga akan difilmkan. Untuk novelnya La Petite Filles de Monsieur Linh ini saat ini juga sedang dalam proses adaptasi sinematografinya.  

Mei, Pau France, 3 February 2008

February 2, 2008

When in Rome (Saat di Roma)

when-in-rome_gemma-townley.jpg

Kayaknya buku lama nih… Memang. Dan memang sudah dibaca sejak tahun lalu, dan saya bahkan telah membuat reviewnya di bulan Juli 2007… Tapi entah kenapa, saya lupa meng-upload review tersebut. Ketika saya sekarang baru selesai membaca satu chicklit yang saya bawa dari Indonesia, tiba-tiba teringat akan buku ini dan tulisan yang sudah saya buat. Jadinya, kini baru tayang deh…

When in Rome (Saat di Roma) 

Novel

Pengarang: Gemma Townley

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2005

Bahasa: Indonesia

Penerjemah: Monica D. C.

Halaman: 404 

Buku ini tiba-tiba ingin saya beli ketika setelah beberapa lama “kehilangan” mood untuk membaca buku-buku saya yang lain yang masih berderet di rak buku. Rasanya sedang ingin menbaca yang ringan dan lucu saja, yang tidak perlu terlalu berpikir untuk mencernanya. Mungkin juga saat itu saya baru saja selesai dari ”masa bekerja”, keluar dari pekerjaan dan projek, yang selama ini memang banyak sekali menguras waktu, namun terutama pikiran saya. Jadi, dengan riang hati saya ambil buku ini dari rak buku Kinokuniya sekitar seminggu lalu, saat saya sedang bebas luntang-luntung di suatu mal seusai kursus bahasa perancis. 

Selama ini sudah banyak terbit novel-novel chicklit, namun terus terang tidak terlalu saya perhatikan, karena sepertinya ceritanya “cewek banget”, pasti tidak jauh-jauh dari masalah mendapatkan cowok dan dambaan untuk segera menikah dan topik sejenis lainnya. Namun saya juga tahu, dalam era neofeminisme seperti sekarang ini, tampaknya kebanyakan si tokoh cewek akan ”tidak akan bego-bego amat”, mungkin akan ada unsur ”menemukan diri sendiri” dan ”menentukan nasib sendiri” dengan segala ke”cewek”annya. Menunjukkan keunggulan dengan ke”cewek”annya, kira-kira begitulah. Namun diluar semua pertimbangan di atas, dari sekian banyak buku chicklit yang berjajar di rak toko buku, saya memilih When in Rome, lebih karena covernya yang lucu, putih dengan tulisan judul warna merah yang kontras, dan gambar scooter dengan sepasang manusia yang duduk di atasnya dalam posisi yang ”gak mungkin banget deh”. Yah, memang ada ungkapan ”Don’t judge the book by its cover”, namun kali ini saya memang melakukannya, dan kebetulan tidak mengecewakan. 

Buku ini mengisahkan tokoh utama Georgie, seorang wanita muda yang biasa saja, berumur dua puluhan, bekerja sebagai asisten riset di suatu perusahaan penerbitan, dan bukan termasuk karyawan teladan karena sering datang terlambat, melamun di depan komputer, dan sebenarnya tidak suka-suka amat melakukan riset. Georgie memiliki cowok, David, seorang akuntan forensik, yaitu suatu kegiatan yang meneliti keadaan keuangan individu atau badan yang dicurigai melakukan transaksi keuangan ilegal. Berbeda dengan Georgie yang cenderung sukar ditebak dan tak terduga, David adalah individu yang penuh perencanaan dan pengendalian diri. 

Cerita ini terjadi karena tanpa sengaja Georgie bertemu kembali dengan mantan pacarnya, Mike, yang notabene memang berbeda jauh dari sosok David. Mike dikenal ganteng, supel dan sudah pasti pandai merayu. Mike meninggalkan Georgie 2 tahun lalu secara semena-mena, yang sebenarnya membuat Georgie sangat marah, bahkan sampai sekarang. Masalahnya, Georgie bertemu Mike kembali dalam kondisi Georgie sedang lusuh, kehujanan, sedangkan Mike justru sedang berada di belakang kemudi sebuah mobil mewah. Padahal, yang selalu dibayangkan Georgie adalah dirinya bertemu kembali dengan Mike di saat ia tampil luar biasa cantik, sehingga Mike menyesal telah meninggalkannya. Bukannya Goergie ingin kembali lagi pada Mike yang telah memperlakukannya dengan buruk, ya, ia sudah punya David di sampingnya. Hanya saja, kadang Georgie masih penasaran dengan Mike. 

Dengan pendekatan yang dilakukan Mike serta keahliannya mengambil hati Georgie, akhirnya Georgie luluh, terpesona kembali oleh ketampanan Mike dan hidupnya yang “keren” dan penuh warna. Sampai pada suatu titik ketika tiba-tiba Mike mengajak Georgie pergi ke Roma di akhir pekan. Georgie tahu bahwa ia tidak boleh pergi dengan pria lain, apalagi dengan mantan pacar, namun ia juga tidak bisa berhenti memikirkannya. Masalahnya, berlibur ke Roma ala Audrey Hepburn dalam film favoritnya, Roman Holiday, telah menjadi impian lama Georgie. Sementara itu, David selalu sibuk dan tidak pernah menunjukkan gelagat akan mengajaknya kesana. 

Akhirnya Georgie pun jadi pergi ke Roma. Cerita berpilin penuh kejutan sedemikian rupa. Tanpa disangka-sangka, Roman Holiday yang diimpikan berubah jauh dari dugaannya semula. Belum lagi perasaan yang berkecamuk karena merahasiakan kepergiannya itu dari David. Bagaimanakah akhir dari impian Roman Holiday Georgie, apa yang ia temui di sana dan bagaimana ia bersikap sesudahnya, merupakan keasyikan tersendiri dalam membaca halaman demi halaman buku ini.  

Gemma Townley cukup lihai memainkan plot yang dengan tiba-tiba membelok tak terduga. Walaupun masalah yang disajikan bukanlah masalah hidup yang sangat berat atau serius, penulis mampu secara peka dan detil menangkap dan menyajikan perubahan perasaan, pikiran dan pertimbangan tokoh-tokohnya, terutama Georgie. Saya pikir, disinilah kekuatan buku ini.  Juga, situasi-situasi yang digambarkan serasa hidup, tidak terlalu mendalam namun segar layaknya sedang menonton film komedi romantis Hollywood, yang menghibur dan mampu membuat penontonnya senyum-senyum sendiri. Selain masalah hubungan Georgie dengan David dan Mike, terselip kisah skandal merger dalam perusahaan Georgie dan tindakan transaksi ilegal yang turut membingkai kisah ini.  

Dalam kisah yang ringan, terselip pesan bagi “kaum cewek” untuk tidak terlalu gampang menilai sesuatu atau seseorang dari kulit luarnya saja, dan untuk menemukan apa yang dirasa paling nyaman bagi dirinya, walaupun itu tampaknya bukanlah sesuatu yang “keren” bagi kebanyakan orang. Georgie sebagai tokoh utama, memang bukanlah suatu tokoh yang super protagonis. Ia tidak sempurna; sebagai wanita muda di awal kehidupan dewasanya, ia kadang bimbang dengan banyaknya stimuli di sekitarnya, dengan banyaknya pilihan, dan konsekuensinya tentu. Ia membuat kesalahan, lalu memperbaikinya, membuat kesalahan lagi, memperbaikinya lagi, dan belajar dari semua itu. Sangat manusiawi sebenarnya. 

Membaca buku ini saya terbayang Meg Ryan sedang memainkan peran Georgie. Lugu, sedikit naif dan kadang melakukan tindakan tak terduga, namun juga sweet dan jujur.  Bacaan yang segar.  

Cirendeu, Jumat, 20 Juli 2007, 8.10pm.   

January 7, 2008

Le Petit Nicolas (series)

petit-nicolas-histoires-inedites.jpgLe Petit Nicolas (series)

Sempé & Goscinny

Gallimard Jeunesse, 2007 & IMAV

Bahasa Perancis

Seri Petit Nicolas ini saya kenal pertama kali dari perpustakaan CCF (Centre Culturel Français) di jalan Wijaya Jakarta, saat saya masih kursus bahasa perancis di sana. Saat itu judul yang saya baca adalah “Histoires Inédites du Petit Nicolas”. Saya langsung jatuh cinta pada buku itu. Walaupun bukunya cukup tebal, namun terbagi dalam cerita-cerita pendek, tentang anak laki-laki kecil perancis dalam kehidupan sehari-harinya. Antara satu cerita dengan cerita lainnya tidak terlalu bersambung, karenanya tidak harus baca bab per bab secara berurutan. Belum lagi hampir di setiap halamannya terdapat ilustrasi berupa sketch yang menurut saya sangat bagus dan ekspresif. Tidak heran karena kedua pengarangnya adalah tokoh-tokoh kartunis yang telah mendunia. Goscinny adalah kreator kartun Asterix, Lucky Luke dan Iznogoud (dan banyak lagi yang lain, namun judul-judul itu setidaknya adalah yang pernah terbit di Indonesia). Sementara Sempé adalah juga seorang ilustrator humoris yang juga mengarang beberapa buku, seperti Marcellin Caillou, Raoul Taburin (sepertinya tidak terbit di Indonesia) dan karya ilustrasinya juga terdapat dalam buku-buku pengarang lain, seperti L’Histoire de Monsieur Sommer karangan Patrick Suskind, dan lainnya.

petit-nicolas.jpgSeri Le Petit Nicolas ini bukanlah sebuah komik, namun novel anak-anak, tetapi penuh dengan ilustrasi di sana-sini. Membuka lembaran-lembaran buku seri ini, dengan ilustrasi-ilustrasinya yang ekspresif sekaligus komikal, saya jadi teringat pada buku-buku Roald Dahl yang juga sarat dengan ilustrasi kartunis.

Setelahnya, saya memburu beberapa bukunya yang lain, dan yang sempat saya beli dan baca adalah “Les Vacances du Petit Nicolas” dan “Le Petit Nicolas”, yang keduanya baru bisa dibeli di Perancis sini.

Apa yang membuat saya jatuh cinta pada seri ini? Sepertinya bisa disimpulkan seperti di bawah ini: 

petit-nicolas-les-vacances.jpg1. Ceritanya yang khas anak perancis. Goscinny dan Sempé berhasil menggambarkan dengan subtle ‘dunia dalam’ seorang anak yang tumbuh di lingkungan keluarga perancis, yang penuh aturan, harus menjaga privasi orang lain, tidak boleh ribut, ekspresi sayang antar anggota keluarga, ekspresi marah, jadwal ketat, pentingnya liburan, sedikit-sedikit harus debat dan diskusi, segalanya harus ada alasan yang dirasa masuk akal, dan sejenisnya. Membaca buku ini sering membuat saya tersenyum, atau bahkan tertawa, sekaligus berpikir betapa susahnya memang menjadi anak kecil yang hidup dalam dunia yang diciptakan orang dewasa…

2. Ilustrasinya yang sangat ‘enak’ untuk dilihat, dan memang sangat menggambarkan apa yang tersurat dan tersirat dalam teks. Betapa gambar pun mampu berbicara. Bravo untuk dua pengarang ini…

3. Kaliber sang pengarang, tentu saja. Salah satu hal yang membuat saya menarik buku ini dari rak buku adalah nama Goscinny dan Sempé itu. Khusus untuk judul “Histoires Inédites du Petit Nicolas”, isinya adalah sedikit banyak pengalaman masa kecil kedua pengarang tersebut, yang mereka gabung-gabungkan menjadi suatu tokoh unik, si Petit Nicolas ini.

4.  Buku ini termasuk buku berbahasa perancis pertama yang mampu membuat saya sangat menikmati dalam membacanya. Setelahnya, saya jadi suka memburu buku-buku berbahasa perancis yang lain. Benar-benar dampak samping yang sangat positif buat saya…

Seperti khasnya sebuah Children Fiction, buku seri Le Petit Nicolas ini saya pikir juga mengusung tema khas literatur anak, yaitu “allowing children to be children”…

Mei, Pau, 7 January 2008 

December 21, 2007

J’ai fui l’Allemagne nazie

jai-fui-lallemagne-nazie.jpg

J’ai fui l’Allemagne nazie: journal d’Ilse, 1938-1939

Yael Hassan

Novel sejarah, 102 hlm,

Gallimard Jeunesse, 2007

Bahasa Perancis

Buku kecil yang bersampul hard cover mirip sebuah jurnal atau buku harian ini penampilannya mengingatkan saya pada kisah sejenis, yaitu “Buku Harian Anne Frank”. Buku ini pun mengisahkan hari ke hari dalam kehidupan Ilse, seorang gadis kecil yang berangkat remaja, pada tahun 1938-1939, suatu masa menjelang perang dunia kedua. Bedanya kisah Ilse ini tidak berakhir sesedih kisah Anne Frank. Ilse tinggal bersama keluarganya di Berlin, dan sebagai Yahudi yang hidup di Jerman dalam periode kekuasaan Hitler, dirinya dan keluarganya mengalami perlakuan diskrimatif yang pada akhirnya mengancam keselamatan hidup mereka sehingga mereka akhirnya harus pergi meninggalkan Jerman, mencari negara lain yang bersedia menerima mereka.

Kisah disajikan dalam bentuk buku harian atau jurnal, tanpa bab, namun per tanggal, yang dimulai dari tanggal 15 November 1938 sampai terakhir 28 Agustus 1939, ditambah sebuah epilog yang bertanggalkan 15 November 1948. Ilse mulai menulis jurnal ini atas saran ayahnya, yang menurutnya dengan menulis dapat meringankan beban pikiran dan membawa sedikit kenyamanan di tengah situasi yang menegangkan dari hari ke hari. Menurut ayahnya pula, banyak penulis besar dunia mulai menulis dengan menulis buku harian, dan bahwa siapa tahu kelak Ilse juga akan menjadi penulis. Pada kenyataannya, menuangkan perasaan dan pikiran dalam tulisan memang membantu Ilse dalam menjalani hari demi hari yang membingungkan dan kian mencekam di Berlin saat itu.

Sebagai gadis kecil di akhir masa kanak-kanaknya, kadang pikiran, perasaan dan tulisan yang disampaikan memang khas anak-anak, betapa Ilse tidak mengerti mengapa dirinya harus dianggap sedemikian berbeda dari anak-anak lain yang bukan Yahudi. Namun di sisi lain, tuntutan situasi juga membuatnya menjadi lebih dewasa, lebih berpikir ke depan, atau lebih mengendalikan diri untuk lebih meringankan beban orang tuanya.  Hal yang paling menyedihkan, bagi saya, adalah ketika Ilse dan seorang kawannya yang juga Yahudi, diminta dan harus meninggalkan bangku sekolahnya begitu saja, tanpa ada alasan yang dijelaskan. Baik guru, kepala sekolah, maupun teman-temannya tak mampu untuk melawan perintah pemerintah saat itu yang melarang anak Yahudi untuk bersekolah di tempat umum. Pertanyaan besar tentu bersemayan di benak Ilse, mengapa dirinya tidak boleh pergi ke sekolah lagi, tempat yang begitu dicintainya? Kapan ia bisa bertemu dengan teman-temannya lagi? Dan mengapa mereka juga tidak datang mencarinya?

Perasaan-perasaan dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul ia tanyakan kepada buku hariannya. Kadang ia menemukan sendiri jawabannya atau berpendapat atas situasi yang terjadi. Dan banyak dari pendapatnya tersebut menyiratkan nurani kemanusiaan. Juga, bagian dari ‘curhat’ yang disampaikan Ilse kepada buku hariannya adalah, seperti layaknya seorang gadis yang berangkat remaja, ketertarikannya dengan seorang pemuda remaja yang tinggal dekat rumahnya, Hans. Ilse sering mengintip dari jendela kamarnya, kapan Hans datang atau pergi setiap harinya. Sampai pada suatu saat mereka bisa mengobrol, walau melalui jendela kamar Ilse atau di depan pintu rumah.

Keadaan semakin mengkhawatikan, terutama bagi keselamatan hidup kaum Yahudi. Karenanya ayah Ilse lalu berusaha mencari visa untuk bisa pergi membawa seluruh keluarganya ke Amerika. Namun perjuangan mendapatkan visa tersebut bukanlah hal yang sederhana. Harapan dan kekecewaan datang silih berganti. Akhirnya ayah Ilse berhasil mendapatkan visa ke luar negeri, bukan ke Amerika, namun ke Cuba, ke Havana. Tiket kapal pun dibeli, juga dengan perjuangan. Akhirnya tiba hari dimana mereka dapat naik ke kapal dan berangkat menyusuri samudra Atlantik menuju Havana.

Dalam kapal, yang bernama S. S Saint-Louis ini, Ilse terus menulis. Termasuk kesedihannya harus meninggalkan Jerman, negara yang selama ini dianggapnya sebagai negerinya. Namun halaman masa yang lalu telah ditutup, harapan dan tujuan ke depan jauh lebih penting. Dengan sejumlah keluarga Yahudi lain, mereka berbagi harapan akan masa depan yang lebih baik di negeri seberang. Perjalanan melewati beberapa negara dan pengalaman berada di atas lautan biru memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Ilse. Bahkan, gadis kecil ini mampu ber’filosofi’ dengan berpikir bahwa ada baiknya juga Hiltler sedemikian kejamnya terhadap Yahudi, karena dengannya ia berkesempatan menikmati indahnya berada di atas laut biru dengan burung yang beterbangan. Betapa dewasanya. Dalam kapal ini Ilse berkenalan dan akhirnya berkawan baik dengan beberapa anak sebayanya, yaitu Lore dan Ruth, serta Erich, seorang pemuda sebayanya pula yang pendiam namun sering bertukar pikiran dengan Ilse. Bersama mereka, dengan luka dan ketakutan yang sama yang mereka miliki, Ilse berbagi harapan dan cita-cita untuk hidupnya di masa datang.

Akhirnya kapal sampai juga di pelabuhan Havana. Namun masalah ternyata belumlah selesai. Harapan yang begitu besar untuk segera merasakan hidup yang damai tanpa kejaran atau kecurigaan ternyata harus tertunda oleh beberapa masalah baru. Kekecewaan, diselingi dengan harapan, datang silih berganti, menimbulkan kelelahan mental yang tiada tara. Semua perubahan situasi, dari harapan lalu kekecewaan yang silih berganti itu, selalu Ilse tulis dalam buku hariannya, sekaligus sebagai media kemarahan, kesedihan atau keputusasaan. Sampai pada suatu saat dimana Ilse sudah tidak mampu menulis lagi karena lelahnya jiwa menunggu kepastian nasib, dan berjanji pada buku hariannya baru akan menulis lagi jika kepastian tersebut telah tiba.

Akankah mereka semua selamat sampai di suatu negeri dimana mereka akhirnya merasa ‘diterima’? Bagaimana akhir dari nasib kawan-kawan Ilse: Lore, Ruth dan Erich? ‘Buku anak-anak’ ini menyajikan perjalanan dan akhir kisah yang membawa muatan kemanusiaan yang cukup dalam. Beberapa akhir dari kisah ini cukup tidak terduga, yang memberikan nilai tersendiri bagi novel anak-anak bermuatan sejarah ini. Pada bagian belakang buku ini, terdapat pula informasi tambahan yang berkaitan dengan konteks sejarah, yang dapat sangat memperluas wawasan anak-anak yang membacanya, seperti gambaran hidup di Jerman pada jaman Nazi, beberapa tanggal penting, beberapa buku dan film yang dapat dibaca atau ditonton terkait dengan Yahudi dan Nazi.

Yael Hassan, seorang penulis perempuan, dilahirkan di Paris pada tahun 1952, tapi baru sejak tahun 1984 ia hidup disana. Sebelumnya ia menghabiskan sebagian hidupnya di Belgia dan Israel. Ia banyak menulis tentang tema-tema yang dirasa dekat olehnya, yaitu tentang asalnya, identitasnya, hidupnya, dan pengalaman-pengalaman pribadinya. Secara kebetulan ia menemukan artikel tentang kesedihan yang terjadi di atas kapal Saint-Louis, dan segera ia tertarik lalu melakukan riset lebih lanjut untuk mendapatkan informasi tambahan terkait dengan subjek tersebut. Dari sini ia merangkum dan menulis novel yang sarat dengan muatan sejarah dan nilai biografis ini.

  

November 6, 2007

Lagi, tentang Voltaire, L’Ingénu

Lagi, tentang Voltaire, kali ini mengenai salah satu bukunya yang paling saya suka, L’Ingenu. Tulisan ini saya buat sebagai bagian dari tugas “kuliah” di Universitas Pau, dimana masing-masing dari kami harus mempresentasikan sesuatu (apa saja), dan saya pilih mempresentasikan sesuatu yang menjadi favorit saya, yaitu buku Voltaire ini. Sekaligus bagi saya berlatih membaca bukunya dalam edisi aslinya, bahasa perancis. Membaca Voltaire dalam edisi perancis sudah tentu terasa lebih sulit, terutama karena penggunaan passe simple yang memang hanya dipakai dalam bahasa tulisan (terutama tulisan yang lama/ kuno), namun kekuatan buku ini tetap terasa. Pembacaan kali ini juga lebih dilengkapi dengan sumber-sumber lain yang membantu saya lebih memahami kenapa Voltaire menulis/ menyampaikan pesan-pesannya sedemikian rupa, seperti konteks sejarah, dan pendapatnya mengenai fanatisme dan toleransi. Voila, silahkan membaca, dan bila ada kesalahan grammaire disana sini (yang sudah pasti ada), yah mohon dimaafkan.. voltaire-lingenu-francais.jpg

(L’Ingenu, Voltaire, fabel, Hatier Paris, 2004, Bhs Perancis, 90 hlm) 

L’Ingénu

Une fable philosophique française 

L’Oeuvre de Voltaire (1767) 

L’Ingénu = qui a une sincérité innocente et naïve.

Fable = récit de fiction exprimant une vérité générale; petit récit en vers ou en prose, destiné à illustrer un précepte. (Dictionnaire Le Robert de poche, 2007).  

La fable s’agit d’un jeune homme Huron (Huron est Indien du Canada, vivant entre le lac Huron et le lac Ontario) qui arrive en France dans la région Bas-Bretons, et là il rencontre le prieur de Notre-Dame de la Montagne (l’abbé de Karkabon) et sa sœur (mademoiselle de Karkabon). Grâce à la belle attitude du jeune homme, il est invité par les deux à rester chez eux. Le jeune homme est nommé l’Ingénu parce que il a l’air simple et naturel, il dit toujours naïvement ce qu’il pense, comme il fait tout ce qu’il veut. Son apparence extérieure est d’un bon sauvage : nu-tête, nu-jambes, les pieds chaussés de petites sandales, long cheveux, un petit pourpoint.  Il parle français fort intelligiblement et il est très poli qui étonnent l’abbé de Karkabon et sa sœur et aussi les autres. À partir d’ici commence l’histoire…, comment il est perçu à être converti en catholique, comment il apprend la bible encourageant, et applique ce qui est vraiment là, mais à cause de ça, produit une confusion dans la prêtre et les autres…. ; comment il tombe amoureux de mademoiselle Saint-Yves et comment puis il est confondu par l’implication de tout le monde en décidant à son sentiment à son amant…. ; comment il pousse les Anglais hors de la France et puis fait un voyage à Versailles pour voir le roi, mais il est surpris par le mauvais comportement de personnes principaux autour du roi… ; et puis comment il est embastillé et rencontre Gordon, un janséniste, avec qui il partage la chambre dans la Bastille et les deux font beaucoup de discussions sur l’humanité, la tolérance, les sciences, surtout dans la science de l’homme, et à cause de son ingénuité, il n’a pas appris les préjugés, il voit les choses comme elles sont… ; et finalement comment la belle Saint-Yves va à Versailles et délivre son amant et un janséniste.   

J’ai lu L’Ingénu la dernière année en indonésien édition, et puis maintenant je viens de lire celui en français, et cette œuvre m’a impressionnée beaucoup. Comme une petite fable, l’histoire est brève, la structure est simple et linéaire, donc on la comprend facilement. Mais, la signification est forte et souvent elle touche l’humanité principale. Pour la bien comprendre, on doit ouvrir nos esprits et voir en nous-mêmes. Sans que cela, elle sera perçue juste comme une légende populaire.

Voltaire est connu par ses contes philosophiques, qui sont les histoires fictives et sont produits par l’auteur dans le but de peindre une critique de la société. Comme le jeune homme Huron, l’Ingénu dit : ”On m’a toujours appelé Ingénu, …. parce que je dis toujours naïvement ce que je pense, comme je fais ce que je veux” (p 10-11). Ce texte me semble que Voltaire veuille utiliser le caractère l’Ingénu comme media pour proposer ses critiques de la société.  

Pourquoi Voltaire avait besoin de proposer les critiques sociaux? A mon avis, le texte ne devrait pas être interprété comme il est, mais on devrait regarder les contextes où l’histoire se passe et l’époque ou le temps où l’écrivain écrivait cette œuvre. Le récit était publié en 1767, mais l’histoire se déroulait en l’année 1689.  

v     La France en l’année 1689 : 

La situation extérieure : (1) Les possessions coloniales françaises : En 1608, Samuel Champlain fonde Québec et crée, avec l’autorisation d’Henri IV, la Nouvelle-France. (2) Les attaques des côtes françaises : En Angleterre, à la fin du XVII siècle, la situation politique est très instable, et des navires anglais abordent sur les côtes françaises. (3) Un nouveau régime politique séduisant : En 1690, la situation anglaise se stabilise grâce au des bills of rights et à l’installation d’une monarchie constitutionnelle qui favorise l’équilibre des trois pouvoirs, exécutif, législatif et judicaire, et donc la liberté individuelle. 

 La situation intérieure : (1) L’utilisation de modèles historiques réels et sa signification : Au moment où il rédige L’Ingénu, Voltaire est en train de préparer une nouvelle édition de son ouvrage consacré au Siècle de Louis XIV (1752). La plupart des noms propres, excepté ceux des héros principaux, sont tous des personnages qui ont réellement existé. (2) La mise en place du pouvoir absolu : En France, en 1689, Louis XIV règne en monarque absolu. (3) La révocation de l’édit de Nantes (1685). (4) La querelle du jansénisme   

v     La France en l’année 1767 : 

La situation extérieure : Bien qu’à l’époque des Lumières la langue et la culture françaises soient prédominantes dans les milieux cultivés d’Europe, l’Angleterre encore donne effet dans l’opinion européenne.

La situation intérieure : (1) L’aristocratie et le pouvoir absolu après Louis XIV. (2) La persistance des conflits religieux. (3) Les mouvement des Lumières : Les Lumières, c’est un mouvement intellectuel qui s’épanouit en Europe au XVIII siècle. Ce mouvement s’oppose surtout au despotisme politique, à l’intolérance religieuse, à la superstition et aux dogmes religieux. Il affirme l’importance de l’éducation, de la science, de la raison, de la liberté, et du progrès. (4) Importance de la figure du philosophe : le personnage de l’Ingénu évoque également la figure du philosophe des Lumière. Le philosophe doit non seulement être en savant qui utilise son jugement et sa raison, mais il doit aussi être un honnête homme.

Ceux qui se sont passés en 1689 et 1767 reflètent les situations importantes dans ces siècles, et Voltaire les utilisait pour exprimer son jugement et ses critiques. Par exemple: le personnage de Huron du Canada, l’arrivée des Anglais sur les côtes françaises et les sentiments de Français vers Anglais, l’utilisation des personnages réels (les noms des ministres, du roi), le conflit avec l’huguenots et janséniste, la passion sur de la science de l’homme et de l’humanité, l’aspiration au personnage qui est raisonnable, modeste et honnête.  

Vers la pratique du pouvoir absolu, et l’intolérance, il écrit, ”Il n’y donc point de lois dans ce pays ? On condamne les hommes sans les entendre ! ” (comme dit par l’Ingénu; p 63). Vers le fanatisme (dans ce cas là – chauvinisme) de Français dans ce temps, il exprime dans la conversation entre l’Ingénu et l’abbé de Saint-Yves et mademoiselle de Karkabon quand l’Ingénu était demandé laquelle des trois langues lui plaisait davantage: la huronne, l’anglaise, ou la française ; ”La huronne, sans contredit” répondit l’Ingénu ; ”Est-il possible ?” s’écrié mademoiselle de Karkabon, ”J’avais toujours cru que le français était la plus belle de toutes langues après le bas-breton.” (p 11-12). Et plus, ”… sans l’aventure de la tour de Babel, toute la terre aurait parlé français.” (p 12).  

Toute l’œuvre de Voltaire est un combat surtout contre le fanatisme et l’intolérance. D’après moi, il propose ses critiques efficacement, parce que sur un mode ludique et léger, on peut comprendre ses pensées facilement et réfléchir en nous-mêmes sans blessant.   

Sur le fanatisme :

  • ”On entend aujourd’hui par fanatisme une folie religieuse, sombre et cruelle. C’est une maladie qui se gagne comme la petite vérole” (”Fanatisme”, Dictionnaire Philosophique, 1764). (vérole = une maladie epidemic, infectieuse)

Sur la tolérance :

  • ”Je ne suis pas d’accord avec ce que vous dites, mais je me battrai jusqu’à la mort pour que vous ayez le droit de le dire”.
  • ”Monsieur l’abbé, je déteste ce que vous écrivez, mais je donnerai ma vie pour que vous puissiez continuer à écrire” (sur une lettre de Voltaire à un abbé Le Riche, du février 1770).
  • ”Qu’est-ce que la tolérance ? C’est l’apanage de l’humanité. Nous sommes tous pétoire de faiblesses et d’erreurs; pardonnons-nous réciproquement nos sottises, c’est la première loi de la nature”. (”Tolérance”, Dictionnaire Philosophique, 1764). (l’apanage = privilège; pétoire = mauvais fusil; faiblesse = défaut/ manque de qualité;  sottise = bêtise, stupidité)

Voltaire écrivait cette œuvre trois siècle avant, mais je pense que ses pensées universelles soient très pertinentes jusqu’à maintenant. Selon moi, L’Ingénu est une petite histoire qui parle grands messages…
 

Voltaire, qui est-ce ?  

§        Né le 21 novembre 1694. Mort le 30 mai 1778.

§        Nom original est François-Marie Arouet, et il l’a changé à Voltaire en 1718 quand il était exilé à la Bastille.

§        Un fils d’un notaire et aîné d’une famille de trois enfants. Sa mère meurt très tôt, en 1701. Dès son enfance, il recevait son éducation chez les jésuites qui lui apportait une fondation sur l’humanisme classique; il conservait le goût de la clarité des idées, de la simplicité de l’expression, et la maîtrise d’aller à l’essentiel.

§        Ensuite, comme la tradition familiale, il commençait des études de droit et puis, pour un peu de temps, il devenait clerc de procureur (”attorney”). Mais, l’introduit dans la bonne société et les salons littéraires, il se lançait alors dans la littérature. Il choisissait la carrière des Lettres contre la volonté de son père, qui disait qu’il ne pourrait pas vivre de sa plume (stylo). En réel, Voltaire était à la fois un écrivain renommé et un homme riche.

§        Au XVIII siècle, à une époque où la culture française dominait en Europe, Voltaire dominait la culture française. Son œuvre est tous les genres littéraires, 56 pièces de théâtre, des dialogues, des ouvrages historiques, des romans et des contes, des vers et de la poésie épique, des essais, des articles scientifiques et culturels, des pamphlets, de la critique littéraire et plus de 20 000 lettres.

§        À cause de son attitude protestaire et franche, il se retrouvait exilé à Sully-sur-Loire en 1716, et puis embastillé en 1717. Exilé aussi en Angleterre où il découvrait un système politique à ses yeux idéal: la monarchie constitutionnelle.

§        Reconnu par sa parole : ”Il faut cultiver notre jardin!”, que il le prouvait en développant un petit village à Ferney, qu’il transformait peu à peu en plus vivant et active économiquement par l’utilisation des techniques plus modernes en agriculture.

  

Source :

1.       Voltaire, ”L’Ingénu”, Hatier, Paris 2004

2.     Voltaire, ”Si Lugu”, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2003

3.     Jean-Joseph Julaud, ”Les Grands Ecrivains”, First Edition, Paris 2007

4.     www.wikipedia.com

5.     www.mademelani.wordpress.com

Pau, 24 Octobre, 2007

  

November 6, 2007

Setelah tidur beberapa bulan….

Setelah sempat tidur beberapa bulan, blog ini (diharapkan) akan hidup kembali.. Selama ini sebenarnya sudah banyak buku yang dibaca, namun karena kesibukan pindahan dsb, baru sempat diutak-atik lagi sekarang, ketika sudah mulai settled di sini. Mudah2an bisa tetap merekam kesan dan cerita tentang buku-buku berikutnya yang dibaca….

Selamat melanjutkan membaca, dan terima kasih bagi mereka yang sudah mampir dan berbagi cerita juga di sini..

Pau, 6 novembre 2007