Name in A Book Challenge 2012

Kali ini saya mau ikut reading challenge ah… sekalian memicu saya membaca buku-buku yang udah nangkring manis di rak, dan memotivasi saya untuk menulis reviewnya :) A good start for 2012! Reading challenge ini diprakarsai oleh blog Baca Buku Fanda.

Di Name in A Book Challenge 2012 ini, tantangannya adalah membaca buku-buku fiksi yang mengandung nama orang di judulnya (nama orang, bukan hewan). Misalnya saja: Sarah’s Key, Iblis & Miss Prym, Harry Potter & the Deathly Hallows.

Ini aturannya:

1. Buku harus fiksi, bukan non fiksi (biografi / memoar/ buku rohani).
2. Nama yang ada di judul adalah nama seseorang, bukan nama hewan peliharaan, bukan grup/perkumpulan (mis. The Mysterious Benedict Society).
3. Boleh nama lengkap, boleh nama panggilan, tapi bukan nama sandi (mis. The Day of the Jackal).
4. Membaca minimal 6 buku (lebih boleh dong) untuk reading challenge ini, mulai 1 Januari s/d 31 Desember 2012.
5. Boleh digabung dengan reading challenge lainnya yang kalian ikuti.
6. Judul yang sudah dicantumkan dari awal, boleh diganti dengan yang lain.
7. Pasang button Name In A Book Challenge 2012 di blogmu.

Dan ini buku-buku yang sudah saya rencanakan untuk dibaca (semua bukan buku baru beli, tapi tumpukan TBR):

1. The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More/ Roald Dahl/ Puffin Books

2. Lolita/ Vladimir Nabokov/ Penguin Books

3. Hector and the Search for Happiness/ Francois Lelord/ Penguin Books

4. Kafka on the Shore/ Haruki Murakami/ Vintage

5. Les Papillons de Victor (The Butterfly of Victor)/ Virginie Kasse, Melissa Sunjaya/ Tulisan

6. Fatima’s Good Fortune/ D & G Dryansky/ Matahati

7. ……

Now, start reading! :)

Mei

Posted in Book stuff | 3 Comments

Mirah dari Banda

Saya menemukan buku kecil ini, Mirah dari Banda, seperti menemukan suatu harta karun yang sekian lama terbengkalai, forgotten, waiting to be found. Buku kecil ini memang tampak kurang menarik diantara sejumlah buku keluaran baru yang terpampang di rak toko buku. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah setting cerita yang bertempat di kepulauan Banda, Maluku. Seberapa sering kita temukan cerita dengan setting Maluku? Belum lagi kisah tentang pohon cengkeh, pala dan rempah-rempah lainnya yang buat saya begitu spesial, menarik. Dan ternyata, buku sederhana ini memang memberikan pengalaman membaca yang sangat menggugah, menggugah rasa kebangsaan, bahkan jati diri sebagai manusia yang lebih universal.

Pekerja di kebun pala, buah pala, biji pala, dan fuli (kulit biji pala). Pohon pala bagi Banda, suatu anugrah ataukah bencana?

Kisah bergerak dari masa kini dengan banyak flash back  ke masa lalu, terutama ke jaman kolonial saat tuan-tuan tanah perkebunan pala dan cengkeh masih berkuasa di Banda. Dimulai dengan Wendy Higgins, seorang expatriat yang sedang tinggal di Indonesia, pergi berlibur ke kepulauan Banda ke rumah teman indonesianya yang berasal dari sana. Sejak awal, novel ini sudah memikat saya dengan penggambaran keindahan alam yang begitu natural, laut yang biru hijau, kadang biru kelam, pulau gunung berapi yang menjadi pemandangan sehari-hari dari depan rumah, suasana pesta santai di teras rumah yang menghadap laut, serta riwayat pohon pala yang demikian indah dideskripsikan. Di tempat itu, entah kenapa Wendy sangat tertarik pada sosok Mirah, seorang koki di dapur yang juga bekas buruh kebun pala pada jaman kolonial, yang kemudian menjadi nyai tuan besar saat itu.  Dalam riwayatnya, Mirah lalu melahirkan anak perempuan, Lili. Pada jaman Jepang, Lili dirampas tentara Jepang, menghilang selamanya dari kehidupan Mirah. Lili sendiri lalu meninggal dunia saat melahirkan anaknya di suatu kapal penyelamat Australia, dan sang bayi lalu diadopsi oleh sepasang suami istri Australia, dan diberi nama Wendy Higgins. Ya, Wendy yang sedang datang ke rumah itu adalah anak dari anaknya, Lili, yang tidak pernah ditemuinya lagi sejak tentara Jepang mengambilnya. Tapi tentu saja baik Mirah dan Wendy tidak menyadari hal itu, hanya saja keduanya memiliki ketertarikan khusus satu sama lain yang tidak bisa mereka jelaskan. Karena, keduanya memang saling mencari; Mirah, sampai kapan pun, selalu berharap akan bertemu kembali dengan Lili anaknya, dan Wendy selalu dalam pencarian mengenai orang tua biologisnya yang ia ketahui berdarah Indonesia. Apakah akhirnya mereka ‘bertemu’, menyadari sebagai keluarga sedarah? Tentu penulis mengakhiri kisah ini dengan sesuatu yang jauh dari klise, namun justru terasa sangat riil, menyentuh, dan masih terasa indah saat kita menutup halaman terakhir.

Saya sangat menikmati perjalanan yang disajikan penulis kembali ke masa-masa kolonial dan perjuangan indonesia, juga mengenai sejarah perbudakan maupun sejarah penanaman rempah. Memang banyak kisah-kisah yang menyayat hati, mengusik rasa kemanusiaan kita, namun semuanya disajikan dengan realisme yang begitu hidup sehingga membuat kita terus membacanya. Juga dalam hal penggambaran karakternya, kita dibawa masuk menyelami jiwa mereka, misalnya karakter Mirah, apa yang ia rasakan dan pikirkan saat ia kecil, menjelang dewasa, ataupun tua. Hanna Rambe, sang penulis, memang tampak sangat menyelami dunia bathin tokoh-tokoh yang terlibat, juga detil sejarah kolonial dan pasca kolonial, perbudakan, dan tidak kalah pentingnya siklus hidup pohon rempah dan alam Maluku. Konon ia menghabiskan waktu cukup lama untuk tinggal di Banda demi mengadakan riset mengenai tempat dan budayanya. Banyak percakapan juga terjadi dalam dialek bahasa lokal, yang ternyata sangat mudah dimengerti, tinggal lafalkan saja dalam benak kita dalam logat maluku yang kental, dan semua jadi terasa hidup.

Siapakah Hanna Rambe? Saya sendiri baru menemukan satu novelnya ini. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang melakukan riset mengenai subjek atau karakter dalam tulisannya secara detil dan mendalam sebelum mulai menulis. Hasilnya memang sangat mudah terasa dalam buku Mirah dari Banda ini. Seorang penulis dan jurnalis, tulisannya juga tersebar di beberapa media nasional. Saat ini Hanna Rambe telah pensiun dari dunia jurnalistik, dan menghabiskan waktunya dengan menulis dan mengajar bahasa Inggris. Novelnya yang lain adalah Pertarungan, sebuah novel ekologi terbitan IndonesiaTera (2002).

Penerbit Obor masih harus bekerja keras memperbaiki banyaknya salah ketik dalam buku ini. Sangat disayangkan buku yang isinya demikian bermutu ini hadir dalam kualitas fisik yang kurang baik. Jika saja semua kesalahan ketik itu diperbaiki, juga hadir dalam kualitas kertas yang lebih baik, tentu buku ini akan lebih memikat, benar-benar suatu collectable item dalam khazanah sastra sejarah/ perjuangan Indonesia. Di sisi lain, pemilihan cover menurut saya sangat tepat, diambil dari lukisan karya pelukis Indonesia dengan tema yang sangat pas, sangat erat dengan isi buku, dan terkesan ‘kuno’-nya.  Kembali ke buku ini, saya menemukan bahwa buku ini bukan sekedar novel sejarah, tapi suatu karya penulisan sejarah yang mengungkap sebentuk sejarah kemanusiaan yang penah ada di muka bumi ini. Buku ini juga dijual luas dalam edisi Inggrisnya di amazon berbagai negara dan menjadi koleksi perpustakaan di universitas-universitas dunia, juga sering saya lihat di Periplus. Sangat layak untuk dibaca, dan apakah juga dibaca luas di Indonesia? Suatu review mengenai buku ini, yang ditulis dengan sangat baik, bisa ditemukan di sini.

Mirah dari Banda/ Hanna Rambe/ Yayasan Obor Indonesia/ 2010 (2003)/ Bahasa Indonesia/ 392 hlm.

Posted in Literature (Classic/ Contemporary) | Tagged | 5 Comments

Dua Kisah Romance a la Murakami

Kali ini saya ingin membahas tentang dua buku Haruki Murakami yang saya baca beberapa bulan yang lalu, keduanya berlatar tema romance yang cukup kental.

Buku pertama adalah Sputnik Sweetheart, terbit pertama kali dalam edisi bahasa Jepang (Sputoniku no koibito) pada tahun 1999. Sumire adalah gadis usia awal dua puluhan yang ‘tidak populer’, selalu berpakaian agak serampangan dengan sweater dan jaket yang serba kedodoran, yang dia yakini sangat mirip dengan tokoh di novel Keruoac, penulis favoritnya. Sumire sendiri adalah seorang aspiring writer, yang masih berjuang menemukan bentuknya. Sementara itu ada Miu, seorang wanita setengah baya yang sukses dan glamor, selalu ‘chic’ dalam berpakaian, dan juga populer. Dua individu yang rasanya sulit untuk akhirnya bisa berteman, yang satu tenar, yang lainnya serba kikuk, sampai pada suatu kesempatan ketika mereka bertemu dalam suatu pesta dan terjadi dialog yang sebenarnya berawal dari kesalahpahaman (antara ‘sputnik’, satelit Rusia, dan ‘beatnik, aliran sastra dalam novel Keruoac). Sumire mendapati dirinya mendambakan Miu, dan didorong kegundahan menemukan dirinya ternyata seorang lesbian, Sumire menceritakan segala kegalauannya kepada teman setianya, K (seorang pria, guru sekolah, yang sampai akhir cerita tidak disebutkan namanya), tentang apa itu hasrat seksual, haruskah ia menceritakan perasaannya kepada Miu, dan segala hal lainnya sampai ke masalah arti hidup. K selalu mendengarkan dengan perhatian yang tulus, karena ia pun sebenarnya mencintai Sumire, namun tidak pernah ia ungkapkan. Frustrasi karena perasaannya sendiri, K lalu menjalin affair dengan wanita lain, seorang ibu dari salah satu muridnya. Sampai pada suatu momen, saat Miu yang kebingungan menelpon K karena sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi pada Sumire.

Novel ini saya katakan berlatar romance, namun yang sangat jelas diungkapkan menurut saya adalah tema kesepian. Berlembar-lembar halaman buku ini seperti merintihkan kesepian, bagaimana berada di suatu tempat yang kosong, menggapai tapi selalu tak tercapai. Tokoh-tokoh dalam cerita ini pun tampak saling berhubungan, sekaligus saling terasing satu sama lain. Lihat saja Sumire dan Miu, juga K dengan Sumire, dan si wanita dengan siapa K menjalin affair. Judul Sputnik Sweetheart pun menurut saya menunjukkan kejeniusan sang penulis dalam menggambarkan tema buku ini dalam dua patah kata, yang sangat pas dengan isi buku sekaligus mengusik keingintahuan. Kenapa Sputnik? Sputnik I adalah nama satelit buatan Rusia (kala itu Uni Soviet), suatu satelit pertama yang pernah dibuat oleh manusia, pada tahun 1957. Sputnik I berhasil mengorbit bumi dalam rentang waktu tertentu dan kembali ke bumi. Sebulan kemudian di tahun yang sama, Sputnik II diluncurkan dengan Laika, seekor anjing, di dalamnya, yang sekaligus menjadikan satelit ini satelit bermuatan makhluk hidup pertama yang pernah diluncurkan. Sayangnya, satelit Sputnik II, beserta Laika di dalamnya, tidak pernah kembali ke bumi, ia melayang, menghilang di keluasan dan ‘kekosongan’ jagat raya yang gelap tak bertepi… Membaca fakta sejarah ini saja sudah menyiratkan rasa sepi dan kosong, dan sepertinya memang itulah yang ingin disampaikan buku Sputnik Sweetheart ini.

Buku kedua adalah South of the Border, West of the Sun (Kokkyo no minami, taiyo no nishi, 1992). Kali ini tema romance-nya lebih kental, walau tetap ada unsur ‘keterasingan’ dalam bentuk yang berbeda. Hajime adalah anak tunggal dari suatu keluarga menengah di kota kecil di Jepang. Saat itu, masa post-war Jepang, menjadi anak tunggal termasuk langka, jika tidak dipandang aneh. Orang-orang dewasa dan mungkin juga teman-temannya akan memasang muka aneh , kadang prihatin, jika Hajime mengatakan bahwa ia tidak punya kakak ataupun adik. Semua temannya pasti punya kakak atau adik. Sepertinya ada anggapan yang ‘kurang’ dalam diri seorang anak tunggal. Hajime sering menyendiri dalam kesehariannya dan tidak merasa masalah dengan hal itu. Teman satu-satunya saat masa sekolah itu adalah Shimamoto, seorang anak perempuan yang juga merupakan anak tunggal di keluarganya. Shimamoto bukanlah tergolong cantik, bahkan ia memiliki suatu kecacatan fisik yang begitu kelihatan, namun tanpa harus banyak menjelaskan, Hajime merasa mereka mengerti satu sama lain. Kenangan terindah masa itu adalah saat berjalan pulang bersama, dan menghabiskan waktu yang tenang di rumah Shimamoto, mendengarkan koleksi musik ayahnya, musik klasik atau jazz jaman itu. Pretend dari Nat King Cole atau South of the Border dari Frank Sinatra, sangat membekas di benak Hajime. Bertahun-tahun kemudian, setiap mendengar alunan musik itu, Hajime terbawa langsung ke ruang duduk di rumah Shimamoto di siang yang tenang dan segala kenangan tentang gadis itu.

Kehidupan berjalan, mereka pindah kota dan berpisah, dan memasuki masa remaja yang riuh dengan dunianya masing-masing, namun tidak pernah Hajime menemukan sosok teman yang intim seperti Shimamoto. Kini Hajime telah dewasa, sukses sebagai pemilik bar jazz yang happening di Tokyo, menikah dengan seorang wanita cantik putri keluarga kaya, dan memiliki dua anak perempuan yang manis. Kehidupan yang lurus-lurus saja. Lalu tiba-tiba Shimamoto muncul kembali dalam kehidupan Hajime. Ia tampak jauh berubah, menawan sekaligus penuh misteri. Bagaimana kehidupan Shimamoto sejak mereka berpisah di masa sekolah dulu? Hajime terserap kembali ke masa lalu, segala perasaannya hidup kembali, dan begitu kuat. Akankah ia mempertaruhkan kehidupannya yang tenang sekarang untuk menggapai yang dulu hilang? Apakah ia akan terus berpura-pura bahagia sementara hatinya terasa hampa? “Pretend you’re happy when you’re blue, it isn’t very hard to do” (Pretend, dari Nat King Cole). Apakah mungkin ia menggapai yang dulu hilang? Apakah masih ada? Saat matahari terbenam di barat, adakah sesuatu di baliknya? “…what is there, west of the sun?” (hlm. 156).

Tema romance yang cukup biasa, pergolakan yang dialami Hajime pun bukan sesuatu yang tidak umum. Memang Murakami menyajikannya dengan cara yang agak berbeda, terutama di bagian awal cerita, tapi selanjutnya, saya hanya menemukan sekedar cerita romance, dengan karakter yang khas Murakami.

Tapi, saya suka dengan seri cover buku Murakami dari Vintage ini!

koleksi Murakami-ku yang keluaran Vintage

Sputnik Sweetheart/ Haruki Murakami/ Vintage/ 2002 (1999)/ English/ 229 hlm.

South of the Border, West of the Sun/ Haruki Murakami/ Vintage/ 2003 (1992)/ English/ 187 hlm.

Posted in Literature (Classic/ Contemporary) | Tagged | 7 Comments

wishing you a blessed 2012!

from www.dreamripples.tumblr.com

Posted in Book stuff | Leave a comment

Tirai Menurun

Tirai Menurun/ Nh. Dini/ Gramedia Pustaka Utama/ 2010 (1993)/ Literatur/ bahasa Indonesia/ 464 hlm.

Sudah lama rasanya saya tidak membaca karya Nh. Dini dimana ia berkisah tentang suatu cerita yang bukan kehidupannya sendiri. Di buku ini Dini bercerita, dari sudut pandang narator, tentang sekelompok pekerja seni, lika-liku dan jatuh bangun kehidupan mereka dalam suatu kelompok wayang wong (wayang orang), yang di masa lalu begitu akrab dan tenar sebagai bentuk hiburan kesenian di daerah Jawa Tengah. Cerita ber-setting di tahun-tahun saat Republik Indonesia Serikat baru saja berganti kembali menjadi Negara Kesatuan, saat revolusi baru mereda dan kehidupan pedesaan kembali mengambil bentuknya.

Adalah empat insan utama dalam cerita ini, Kedasih, Kintel, Sumirat dan Wardoyo, yang diceritakan riwayatnya sejak mereka kecil bersama keluarga tempat mereka tumbuh beserta tokoh-tokoh lain, sampai perjalanan hidup mereka mencapai dewasa. Masing-masing berasal dari desa-desa kecil di sekitar Semarang. Lingkungan pedesaan dengan segala kebiasaannya diceritakan dengan lugas, termasuk jerih payah dan harapan-harapan para tokohnya yang, dalam ukuran sekarang, tampak begitu sederhana. Nasib lalu mempertemukan mereka dalam suatu paguyuban wayang wong, Kridopangarso, dimana mereka lalu bersama-sama tumbuh sebagai anak-anak wayang, lalu berkarya sekaligus mencari hidup dalam dunia itu.

Di atas panggung, mereka melakonkan berbagai cerita, cerita kepahlawanan maupun cerita romantis antara pangeran dan putri, melalui peran raja agung berkharisma, putri rupawan, maupun raksasa antagonis, dalam cerita yang berakhir bahagia ataupun sedih. Panggung dan segala lakonnya adalah suatu cerita. Sang dalang bolehlah mengatur segala lakon dan peristiwa di atas panggung pertunjukan, namun tidak demikian halnya dengan ‘panggung kehidupan’ nyata. Selepas dari panggung, mereka masuk ke dalam kehidupan mereka sendiri yang sejatinya merupakan panggung mereka yang sebenarnya. Semua hal bisa terjadi, harapan yang dipelihara sekian lama bisa pupus, pasangan menawan di atas panggung bisa saling menyakiti. Namun kehidupan harus terus berjalan, setiap individu berusaha bertahan, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur yang kerap disampaikan melalui lakon mereka di atas panggung, atau dengan melabrak itu semua.

Perubahan jaman dan pesatnya perkembangan urban pada jaman itu akhirnya mau tidak mau mempengaruhi hidup paguyuban wayang wong ini. Mampukah Kridopangarso, dengan segala talenta dan nilai-nilai yang diusungnya, bertahan ditengah arus perubahan itu, ditambah anggota-anggotanya yang berganti sejalan dengan perjalanan nasib mereka?

Nh. Dini kembali membuktikan dirinya sebagai pencerita ulung, salah satu yang terbaik yang dimiliki negeri ini, menurut saya. Bagaikan didongengi, kita mengikuti perkembangan kehidupan para tokohnya. Karakternya kuat digambarkan dan begitu nyata, setting-nya tampak hidup, dan ceritanya sangat realistik. Kentara bahwa penulis sangat memahami seluk-beluk dunia pertunjukan wayang wong dan kehidupan anak-anak wayang didalamnya. Bahasa yang dipakai pun sederhana, dengan style yang agak berbeda dari buku-buku memoarnya, lebih mirip dengan gaya bercerita di buku-buku sastra lama. Kadang bercampur dengan istilah atau ungkapan yang sangat jawa, tapi tidak mengganggu karena selalu ada keterangan terjemahannya, malah segala ungkapan itu makin memperkaya dan menghidupkan situasi ‘jawa’nya. Diselingi pandangan filosofi tradisional yang sering mengingatkan kita akan pentingnya menerima perbedaan serta sikap mengasihi sesama, membaca buku ini semakin menyadarkan kita bahwa nilai-nilai tersebut sebenarnya ada di antara kita, di akar budaya kita sendiri, namun kini telah banyak dilupakan.

Buku ini, walau kental dengan dunia panggung dan pekerja seninya, toh pada hakekatnya tidak hanya bercerita tentang panggung itu. Ada ‘panggung’ yang lebih nyata, yaitu kehidupan itu sendiri, dan melalui mata orang ketiga, kita diajak Dini menelusuri perjalanan ‘nasib’ para pelakunya. Ada bahagia, ada sedih, ada harapan dan kecewa, sampai tiba waktunya ‘tirai panggung harus diturunkan’, penanda berakhirnya satu ‘panggung kehidupan’.

Terbit pertama kali pada tahun 1993, buku ini dipersembahkan Nh. Dini bagi kawan-kawan pelaku seni sejamannya, salah satunya Bagong Kusudiardjo.

Mei

Denpasar, Agustus 2011

Posted in Literature (Classic/ Contemporary) | Tagged | 4 Comments

The Wind-up Bird Chronicle

The Wind-up Bird Chronicle/ Haruki Murakami/ Vintage 2003 (1994)/ Literature/ English/ 607 p.

Toru Okada sedang memasak spageti di rumahnya di suatu siang yang tenang saat telpon berbunyi. Seorang perempuan tak dikenal berbicara diujung sana, mengaku mengenal Toru, namun sebelum pembicaraan tuntas telpon harus dihentikan. Telpon berbunyi kembali, kali ini istri Toru yang menelpon dari kantor, menanyakan tentang kabar pencarian kucing mereka yang hilang. Istri Toru sendiri suatu hari tiba-tiba juga menghilang, tidak pulang ke rumah setelah berangkat kerja.

Berawal dari pencarian kucing mereka yang hilang, dan lalu istrinya sendiri, Toru bertemu dengan berbagai karakter yang tampaknya biasa namun memiliki cerita hidup yang sama sekali tidak biasa. Satu per satu menceritakan kisahnya kepada Toru, mulai dari seorang gadis remaja May Kasahara dengan segala persoalan dan pertanyaannya, kakak beradik Malta dan Creta Kano yang memiliki kemampuan psikis indra keenam, Mr. Honda kerabat keluarga istrinya dengan perilakunya yang khas, Nutmeg dan Cinnamon Akasaka dengan kehidupan mereka yang serba ekslusif, sampai Liutenant Mamiya yang masih selalu membawa memori kekejaman perang yang sempat ia saksikan. Dan beberapa karakter lain. Begitu membaca kalimat pertama dalam buku ini, saya seperti terbius untuk terus membacanya, halaman demi halaman. Dengan pola yang lambat namun membawa kita terus masuk ke kehidupan Toru, Murakami mengubah hidup Toru Okada yang tadinya tenang dan sangat biasa menjadi penuh corak, yang semuanya berawal dari suatu siang yang tenang saat ia sedang memasak spageti.

May Kasahara menyebut Toru Okada sebagai Mr. Wind-up Bird, karena Toru pernah bercerita tentang seekor burung yang tidak tampak tapi diduga ada di salah satu pohon di halaman rumahnya, yang senantiasa bernyanyi layaknya menyambut musim semi. Serangkaian peristiwa dialami Toru dalam rangka mencari keberadaan istrinya, seakan ia masuk ke dalam pusaran (chronicle) peristiwa. Dan dari sinilah judul buku ini berasal. Apa yang terjadi dengan istri Toru dan mengapa ia tiba-tiba menghilang? Akankah Toru bertemu kembali dengan istrinya?

Dalam buku ini Murakami banyak mengangkat tema-tema kemanusiaan akibat perang, dimana manusia sepertinya bisa diurai sedemikian rupa menjadi unsur-unsurnya dan menjadi begitu tidak berarti. Adegan-adegan dari perang Jepang di daerah Manchuria maupun perang dunia kedua kerap kali muncul dan diceritakan dengan begitu detil melalui karakter tertentu. ‘Penguraian’ manusia menjadi unsur yang tidak berarti ini juga ditemukan dari kisah hidup karakter lain dalam bentuk yang berbeda. Ada sesuatu yang ‘tercabik’, dan ada usaha untuk menemukan kembali sesuatu yang hilang itu. Seperti juga Toru Okada, yang kehilangan istrinya dan melakukan segala upaya, seabsurd apapun itu, untuk memahami alasan kepergiannya, menemukannya dan membawanya kembali ke rumahnya yang tenang. Kisah bersetting di tahun 1984 dan 1985, dan seperti buku-buku Murakami yang lain, perasaan terasing dan identitas diri dalam kehidupan Jepang yang beranjak mekanistis dan modern, masih terasa. Perasaan-perasaan dasar manusia juga kadang diangkat, seperti perasaan benci yang tanpa disadari bisa begitu merasuk ke jiwa manusia:

Hatred is like a long dark shadow. In most cases, not even the person it falls upon knows where it comes from. It is like two-edge sword. When you cut the other person, you cut yourself. The more violently you hack at the other person, the more violently you hack at yourself. It can often be fatal. But it is not easy to dispose of. Please be careful, Mr. Okada. It is very dangereous. Once it has taken root in your heart, hatred is the most difficult thing in the world to eradicate. (p 312)

Walau beberapa kisah tampak tidak terlalu bersambung, pada akhirnya pembaca akan menemukan bahwa semua kisah yang diceritakan dengan detil itu terjalin sedemikian rupa, bagai sebuah puzzle tiga dimensi.  Ujung kisah pun masih memberikan hal yang mengejutkan dan berkesan bagi pembaca. Kadang kisah berpindah dari real ke surreal, lalu kembali lagi ke real, tanpa kita benar-benar menyadarinya. Dengan kemahiran Murakami, perpindahan real ke surreal dan sebaliknya itu tidak terasa mengganggu, Murakami membuat hal yang surreal menjadi begitu ‘natural’, dan kita semakin masuk ke dunia Toru Okada dan karakter-karakter lainnya. Kebenaran atau penghayatan atas apa yang dialami tidak selalu harus berdasar fakta, dan fakta pun tidak melulu berarti kebenaran.

Everything is intertwined, with the complexity of a three-dimensional puzzle – a puzzle in which truth was not necessary fact and fact not necessary truth. (p 527)

Diterjemahkan dari bahasa jepang ke bahasa inggris dengan sangat baik oleh Jay Rubin, buku ini merupakan buku Murakami ketiga yang telah saya baca setelah Norwegian Wood dan Dengarlah Nyanyian Angin, dan makin membuat saya ingin membaca buku-bukunya yang lain. The Wind-up Bird Chronicle sampai saat ini menjadi buku Murakami terfavorit yang pernah saya baca.

Mesmerizing, surreal, and beautifully written.

Mei

Denpasar, August 2011

Posted in Literature (Classic/ Contemporary) | Tagged | 10 Comments

Saga No Gabai Bachan

Saga No Gabai Bachan/ Yoshichi Shimada/ Kansha Book/ 2011/ Literatur/ Bahasa Indonesia/ 261 hlm.

Suatu hari saat makan malam.

“Nek, dua-tiga hari ini, kita makan kok hanya nasi ya, tanpa lauk?”

Setelah aku berkata begitu, sambil tertawa terbahak-bahak, nenekku menjawab, “Besok nasi pun takkan ada kok.”

Aku dan Nenek hanya bertatapan mata, kemudian kembali terbahak bersama.

Saya sering mengintip halaman pertama suatu buku untuk ‘get the feeling’ tentang buku itu. Membaca cuplikan kalimat pertama dari prolog di buku Saga no Gabai Bachan di atas ini, saya tahu akan mendapatkan bacaan yang berkesan. Saya jadi tersenyum sendiri membayangkan situasi di meja makan tersebut, walau ada juga rasa miris yang menyelinap. Buku ini sarat dengan keharuan yang disampaikan dengan cerita yang lucu dan bahasa yang sangat sederhana, dari sudut pandang Akihiro, seorang bocah berusia 9 tahun.

Akihiro kehilangan ayahnya saat bom Hiroshima, dan demi keamanan, terpaksa tinggal terpisah dari  ibunya, yang harus tetap bekerja di kota itu, untuk tinggal bersama neneknya di desa kecil Saga. Kehidupannya bersama sang nenek tergolong prihatin dan sangat sederhana, namun dengan situasi itu toh mereka selalu punya hal untuk dijalani dengan penuh tawa. Akihiro tetap bisa bersekolah dengan riang dan percaya diri, bahkan berprestasi, dan dengan akal cemerlang sang nenek, mereka mengatasi kondisi kekurangan yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan filosofinya yang sederhana, sang nenek mengajarkan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang, tapi ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.

Sepanjang membaca buku ini, saya jadi tersenyum atas kepolosan Akihiro dan kelucuan ide sang nenek, sekaligus terharu justru karena kesederhanaan itu. Betapa sederhana sebenarnya ‘syarat’ untuk menjadi bahagia, itupun jika kebahagiaan membutuhkan syarat. Beberapa adegan bahkan berhasil membuat saya berkaca-kaca, yang membuat saya ingin memeluk Akihiro. Tapi dengan cepat pula adegan lucu hadir, yang membuat saya ingin tersenyum kembali. Bagaimana kelanjutan nasib Akihiro di Saga, dan apakah ia akan berkumpul kembali dengan ibunya dan meninggalkan Saga serta neneknya?

Kisah yang sederhana, manis, dan begitu berkesan, berasal dari pengalaman pribadi sang penulis, yang begitu bangga akan neneknya yang berasal dari desa kecil Saga.

Tertawalah saat orang terjatuh. Tertawalah saat diri sendiri terjatuh. Bagaimanapun semua orang memang lucu. (salah satu tips hidup menyenangkan dari sang nenek)

Mei

Posted in Literature (Classic/ Contemporary) | Tagged | 10 Comments

Madre

Madre/ Dee (Dewi Lestari)/ Bentang/ 2011/ Literatur/ 160 hlm.

Buku terbaru dari penulis Dee ini sudah pasti ditunggu banyak pembaca dan biasanya situasi ini menimbulkan high expectation atas buku tersebut. Seperti koin dengan dua sisi, satu hal situasi ini ‘menguntungkan’ bagi buku itu, tapi disisi lain, dengan tingginya harapan pembaca atas buku tersebut, seringkali mereka justru kecewa dan buku ini lalu dinilai biasa-biasa saja. Kepuasan atau kekecewaan atas suatu buku, dan saya pikir juga untuk hal-hal lain dalam hidup, memang seringkali tergantung pada bagaimana ekspektasi kita di awal atas hal itu. Beberapa review yang sudah saya baca atas Madre mengatakan bahwa buku ini begitu biasa, beda dengan tulisan Dee yang dulu.  Jadi, saat buku ini tiba-tiba ada di tangan saya, karena seorang teman spontan meminjamkan, saya mulai membacanya dengan no expectation, karena saya tidak ingin mengikis kepuasan membaca buku ini hanya karena menempatkan harapan yang tinggi di awal, dan bisa jadi pendapat saya berbeda dengan pembaca yang lain.

Ternyata I ended up liking this book. Saya merasa Dee di buku kumpulan ceritanya ini sedang ingin menjadi dirinya yang ‘dewasa’, setidaknya dengan disajikannya tema-tema hidup yang lebih dalam, dan disampaikan lebih banyak dengan cara yang lebih serius, yang berbeda dengan atmosfir spontan dan kocak yang sering dirasa saat membaca bukunya yang lain, misalnya seri Supernova atau Perahu Kertas. Begitu membaca cerita pertama, yaitu yang berjudul ‘Madre’, saya merasakan perbedaan ini, dan karenanya saya switch otak dan mood saya untuk juga jadi lebih ‘serius’.

Tema-tema dalam cerita ini memang bukan lagi kebanyakan tentang pencarian pasangan hidup (walau ada, dengan tokoh yang lebih dewasa), tapi juga merambah ke makna menjadi ibu, arti cinta dan tuhan, arti diri dan hidup ini dalam keabadian dan kefanaan, juga makna-makna kosmik kehidupan yang berkaitan dengan filsafat timur, dan tentu saja, tentang cinta. Setidaknya itu yang saya temukan dari beberapa cerita, puisi dan tulisan pendek dalam buku ini.

Cerita yang paling saya suka adalah Rimba Amniotik, Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan, dan Menunggu Layang-Layang. Dalam Rimba Amniotik, Dee dengan indah mengungkapkan perasaannya saat menanti kehadiran anak perempuannya, melihat ibu justru sebagai ‘embrio’ dan anak sebagai ‘sang pemilih’, yang memang benar adanya dan membuat saya berhenti sejenak untuk memikirkan hal itu. Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan menunjukkan kemahiran Dee menyampaikan makna yang sangat mengena hanya dengan tulisan yang begitu pendek dan melalui cerita yang tampaknya tidak terlalu serius. Dalam Menunggu Layang-Layang, saya menemukan kembali spontanitas dan ‘kekocakan’ khas Dee dalam tema kerinduan pasangan hidup, dengan karakter urbannya yang khas dan dialog yang segar. Cerita Madre saya temukan justru agak terlalu datar, walau unik secara jalan cerita dan berhasil membuat saya kangen roti hangat buatan tangan artisan. Sedangkan puisi yang paling saya suka adalah Perempuan dan Rahasia, juga Barangkali Cinta.

Tulisan Dee banyak mengusung tema ‘romantisme’, maksudnya di sini bukan romance atau percintaan, tapi dimana kata hati dan harapan bisa jadi begitu penting dan menentukan. Ia tidak pragmatis, dan mungkin tidak perlu melulu pragmatis. Membaca tulisan Dee membuat saya sejenak menikmati romantisme itu.

Mei

Posted in Literature (Classic/ Contemporary) | Tagged | 6 Comments

Untuk Indonesia yang Kuat

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk tidak Miskin/ Ligwina Hananto/ Literati/ 2010/ Non Fiction – Finance/ Bahasa Indonesia/ 240 hlm.

Buku ini telah saya baca beberapa bulan yang lalu. Pertama kali tahu buku ini dari buku Rene Suhardono, “Your Job is not Your Career”, dimana Ligwina Hananto menjadi salah satu tokoh Rock Star di sana. Satu hal paling saya kagumi dari Ligwina adalah ia memiliki misi yang jelas sebagai individu, apa yang mau ia capai dalam hidupnya, suatu mimpi yang cukup tinggi tapi tetap realistik dan bukan tidak mungkin untuk dicapai. Misinya yaitu menciptakan masyarakat kelas menengah Indonesia yang kuat. Buku ini pun banyak menyampaikan inspirasi dan ajakan untuk bersama-sama bergabung dalam misi tersebut.

Siapakah manusia kelas menengah itu? Mereka kira-kira adalah yang telah memiliki penghasilan, tidak perlu fantastis tapi cukup untuk hidup, masih bisa menikmati liburan sesekali, masih mampu rutin membeli hal-hal yang menjadi hobinya atau menikmati hiburan sekali seminggu, tidak selalu hidup mewah tapi masih bisa menggaji pembantu, atau punya tabungan. Ligwina mambuka mata kita bahwa mereka ini adalah golongan yang kuat karena sudah mampu mandiri (secara finansial), bahkan mampu membantu golongan ekonomi di bawahnya.  Dan bagusnya mereka adalah golongan yang aktif berproduksi dan merupakan porsi yang besar dalam keseluruhan penduduk. Namun, sering kali, karena ketidakpahaman atau ketidakpedulian akan pengelolaan keuangan, golongan ini kembali jatuh ke level ‘miskin’ dibawahnya, tidak memiliki tabungan atau malah berhutang.

Ligwina di sini tidak bicara tentang teori ekonomi, tapi lebih pada peran kita, manusia kelas menengah Indonesia, baik sebagai individu atau keluarga, dalam mengelola keuangan pribadi. Tabungan, investasi, dana pendidikan, dana pensiun, dana darurat, dana liburan, semua dibahas dengan cukup simple, komunikatif dan mengena pada faktanya. Intinya membantu kita menjadi kuat dan lebih kuat secara finansial, yang pada gilirannya dalam skala yang luas akan memperkuat perekonomian negara.

Saya pribadi merasa ‘tertampar’ dan belajar banyak dari buku kecil ini. Ligwina banyak merentangkan fakta-fakta sampai tahun-tahun kedepan yang membuat kita melihat situasi masa depan sebagai realitas, dan karenanya perlu diperhitungkan sebagai kenyataan mulai saat ini. Saya belajar terutama untuk hal-hal berikut:

  • Persiapan dana pensiun bukan sekedar tersedianya dana pada saat kita pensiun, tapi harus dihitung pula biaya hidup yang diperlukan untuk hidup dengan kualitas/ lifestyle yang kira-kira sama dengan sekarang, untuk kurun waktu sekitar 30 tahun! (pensiun usia 55 dan perkiraan kita hidup sampai usia 85, maka ada 30 tahun masa pensiun yang harus dipikirkan biaya hidupnya). Dengan inflasi, meningkatnya kebutuhan khusus di masa pensiun dan situasi kita yang tidak bekerja, dan kualitas hidup yang kita inginkan, berapa dana yang harus kita siapkan? Dan bagaimana mencapai dana tersebut? (*pingsan dulu ah*)
  • Pengelolaan hasil dari aset aktif, jika memang sudah berproduksi, kemana hasil/ profit dari aset itu? Jangan-jangan habis lagi sia-sia untuk hal-hal yang lebih bersifat konsumtif! (*makanya perlu pencatatan pengeluaran, non!*)
  • Berani berinvestasi (*dan sedikit lebih berani mengambil resiko, ok?*).
  • Last but not least, kembali saya diingatkan untuk ubah cara pikir dari yang selalu bertanya, “berapa penghasilanku sekarang?”, menjadi ,”berapa pengeluaranku bulan ini?”. Ligwina banyak memberikan ilustrasi bahwa kekuatan finansial pribadi ternyata tidak terlalu ditentukan oleh besarnya penghasilan, tapi seringkali dari besarnya pengeluaran. Yang berpenghasilan 5 juta per bulan bisa jadi lebih baik kondisi finansial pribadinya daripada yang berpenghasilan 30 juta per bulan, jika ia menyisihkan penghasilan untuk investasi terlebih dahulu baru untuk pengeluaran, dan mempunyai perencanaan keuangan yang baik. Yang berpenghasilan 30 juta per bulan, dengan perilaku konsumtif yang buruk dan tanpa melakukan perencanaan, bisa jadi tabungan dengan jumlah standar saja belum punya, atau masih tergantung pada orang tua untuk beberapa kebutuhan hidupnya. Di samping itu, dengan penghasilan tinggi, maka gaya hidup akan berubah tinggi juga, dan kecepatan peningkatan gaya hidup ini sering bahkan melebihi kecepatan meningkatnya penghasilan. Jika kita terseret dalam kondisi ini terus menerus, apakah kita malah terjebak pada ‘proses pemiskinan’ diri sendiri?

Walau ‘menampar’, buku ini juga memberi semangat untuk fokus dan konstruktif mengelola keuangan pribadi, dan bahwa mencapai keamanan finansial bahkan financial freedom, walau tampak jauh, bukanlah hal yang tidak mungkin. Dan, ternyata dengan pengelolaan yang baik, serta being smart dalam pemilihan kegiatan, tidak menutup kesempatan kita kok untuk tetap berlibur, beli buku, dan menjalankan hobi kita, apapun itu! :)

Ligwina Hananto adalah pendiri dan CEO dari QMFinancial dan percaya bahwa finance should be practical.

Mei

Posted in Essay | Tagged | 3 Comments

Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam

Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam/ Rudy Badil (editor)/ KPG/2010/ Travel Writing/ Bahasa Indonesia/ 423 hlm.

Di sekitar tahun 1976 – 1992, nama Norman Edwin identik dengan pendakian gunung, pengembaraan di alam liar yang bersifat ilmiah, dan penulis kisah perjalanan di majalah-majalah alam kala itu. Saya sendiri ‘lahir terlambat’ untuk bisa benar-benar mengenal sosok dan tulisannya saat beliau aktif menulis; pada tahun-tahun itu saya masih terlalu kecil untuk merambah bacaan sampai ke majalah petualangan alam yang berisi artikel perjalanan alam yang riil dan ilmiah, walau sempat mengingat hangatnya berita kepergian beliau di awal tahun 90-an. Dipelopori oleh ‘teman-teman seperjalanan’ Norman untuk mengumpulkan kembali tulisan-tulisan beliau, buku ini memuat sekitar 70 tulisan Norman Edwin yang tersebar di majalah “Mutiara”, “Suara Alam” maupun harian Kompas. Sang istri, Karina Arifin, PhD yang juga teman Norman menjelajah alam sejak jaman kuliah, ternyata masih menyimpan sebagian besar majalah, tulisan dan foto beliau dalam kegiatannya. Ditambah koleksi dokumentasi dari teman perjalanan lainnya, maka hadirlah buku ini. Sosok yang tadinya agak asing jadi terasa dekat melalui tulisan-tulisannya, dan memang, setelah membaca buku ini, saya jadi bisa memahami mengapa beliau demikian berkharisma di kalangan pendaki gunung atau kegiatan alam lainnya, bahkan tersirat memiliki kelompok ‘fans’ tersendiri yang mengagumi dan mengikuti sikap dan idealisme beliau terhadap alam.

Norman Edwin lahir di Sungai Gerong, Sumatera Selatan, pada tanggal 16 Januari 1955, kuliah di jurusan Sejarah Universitas Padjdjaran, Bandung, dan jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau aktif di kegiatan Mapala UI sehingga namanya sepertinya tidak bisa lepas dari organisasi tersebut. Norman memiliki kebiasaan selalu mendokumentasikan dan mencatat perjalanan kegiatannya, yang merupakan ciri penulis tangguh, yang segera dapat dilihat dari tulisannya yang sangat detil, logis, akurat, tapi juga cukup populer dan bebas. Kegiatan kepenulisannya berkaitan dengan pekerjaannya sebagai wartawan, ekspedisi/ peneliti ilmiah, maupun misi search and rescue (SAR). Saya membayangkan ia tetap membuat catatan-catatan kecil tak peduli dimanapun ia sedang berada, di gunung, saat di dalam gua, atau di atas kapal yang senantiasa bergoyang dengan angin laut.

Buku ini terbagi dalam beberapa bagian berdasarkan tema dan setiap bagian ada beberapa tulisan yang masing-masing tidak terlalu panjang, memuat tulisan-tulisan perjalanannya yang berkaitan dengan pendakian gunung-gunung yang termasuk dalam The Seven Summits (Tujuh Puncak Dunia) – Puncak Jayakesuma di Papua, Kilimanjaro di Afrika, McKinley di Amerika Utara, Denali di Alaska, dan Elbrus di Eropa, melintasi arung jeram dan menjelajahi sungai-sungai yang menembus hutan dan peradaban Dayak di Kalimantan, penelusuran gua-gua besar dan dalam di Jawa, seperti Luweng Ombo dan penemuan spesies ikan kanibal tak bermata di dasar gua, panjat tebing di Yosemite yang dikenal sebagai “mekah”nya pemanjatan tebing curam, sampai mengarungi samudra melewati beberapa lautan dan negara di atas kapal tradisional Pinisi, dari Australia ke Maluku, dan dari Bali ke Madagaskar. Juga artikel-artikelnya mengenai sikap ‘pecinta alam’ yang sering salah kaprah, relasi alam dengan keberadaban dan perilaku manusia, seperti bukti mahakarya megalitik di lembah Lore di Sulawesi, gunung suci Penanggungan yang demikian tidak dihargai, maupun reaksi masyarakat kita atas ‘perilaku alam’ seperti gempa atau gunung meletus. Tulisan Norman penuh dengan informasi yang membuka cakrawala, sekaligus seru dengan petualangan. Namun petualangan di sini bukan sesuatu yang sekedar ‘fun’, tapi juga penuh perhitungan ilmiah, dan memang demikianlah seharusnya berpetualang dengan alam. Norman seakan ingin mengatakan untuk jangan menyalahkan alam untuk segala ‘kecelakaan’ yang terjadi karena alam hanya menjalankan ‘tugasnya pada waktunya’, seperti kapan ia harus menghembuskan badai atau udara dingin, kapan suatu gunung harus meletus, dan sebagainya, namun manusialah yang memasuki wilayah-wilayah itu yang harus membekali diri, dengan peralatan yang memadai dan sesuai, juga dengan pengetahuan. Terlalu sering kecelakaan ‘sepele’ namun berakibat fatal terjadi lebih karena sikap ‘ignorant’ manusia. Mengasikkan buat saya untuk menjelajah tempat-tempat sepi dan terpencil di pelosok negeri Indonesia maupun dunia yang terekam di buku ini. Tampaknya semakin sepi dan terpencil suatu tempat, semakin menarik bagi Norman Edwin. Ia memang bukan individu yang sekedar mengikuti arus ‘mainstream’; semakin jauh dan sunyi suatu tempat, semakin jelas terdengar suara alam; semakin susah suatu tempat dijelajahi, semakin berkisah ia.

Tulisan Norman juga detil dengan data-data kesejarahan yang luas yang berasal dari sumber-sumber dunia, dan mengingat tulisan-tulisannya banyak dibuat di tahun-tahun akhir 70-an sampai awal 90-an dimana sebagian besar masa itu internet belum ada, saya makin mengagumi kedalaman informasi yang disampaikan. Tentu membutuhkan usaha yang tidak sedikit untuk mendapatkan dan merangkum sejumlah informasi unik dan relevan tersebut hingga menjadi tulisan yang begitu membuka cakrawala. Selain itu, bagi pembaca masa itu, membaca tulisan tentang suatu tempat terpencil di Alaska misalnya, tentu sangat membuka wawasan, mengingat jaman itu dunia belum sedemikian ‘borderless’ seperti sekarang, Alaska masih seperti tempat yang sangat jauh dan asing di dunia lain. Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto pengembaraan alam beliau, yang walau tidak berwarna, tetap terasa ‘spesial’.

Norman Edwin ditemukan tewas, bersama rekannya Didiek Samsu, di bawah timbunan salju saat sedang memanjat gunung Aconcagua (6700 m), tanah tertinggi Amerika Latin di Argentina, pada tahun 1992. Menurut kabar, tangannya masih menggenggam kapak es dan ia berada di posisi 200 meter dari puncak. Akhirnya, ia pun tunduk dan rela dalam dekapan sang alam. Evakuasi jenazah keduanya dibantu oleh tim Tentara Nasional Argentina, dan saat tiba di tanah air diterima oleh Prof Dr Fuad Hassan selaku Mendikbud saat itu dan ribuan pelayat lainnya. “The eagle flies alone”, garuda terbang sendiri, tidak seperti bebek yang selalu mengekor, Norman dan Didiek telah berani menempuh jalannya sendiri. Idealisme Norman akan selalu hidup, salah satunya melalui buku ini.

Ditengah arus maraknya tulisan perjalanan yang mengandalkan ‘fun’ dan bersifat ‘jalan-jalan’, buku ini dapat menjadi alternatif bagi mereka yang mencari tulisan travel writing yang ‘tidak biasa’, kental dengan unsur alam, dan ilmiah, yang membawa kita “mengunjungi tempat-tempat sunyi di ujung terluar wilayah jangkauan manusia”. Rudy Badil melakukan editing buku ini dengan sangat baik, dan tulisan beliau di beberapa bab akhir dalam Lampiran turut memberi isi dan makna pada pengalaman membaca buku ini. Selain Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam ini, Rudy Badil juga mengedit beberapa buku lainnya seperti Soe Hok-Gie Sekali lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya, serta Warkop: Main-main jadi Bukan Main.

Balikpapan, 26 Juli 2011

Mei

Posted in Travel Writing | 2 Comments